Beritanda.com – Gelombang demonstrasi Iran kembali meledak sejak akhir Desember 2025, dipicu anjloknya nilai mata uang rial iran atau sering di sebut toman dan lonjakan biaya hidup. Aksi protes ini menjadi yang terbesar sejak kasus Mahsa Amini pada 2022 dan mengguncang berbagai kota utama.
Krisis Ekonomi Jadi Pemicu Demonstrasi Iran
Nilai tukar dolar AS yang menembus kisaran 140.000 toman atau setara dengan 1,4 juta rial per dolar membuat harga kebutuhan pokok melambung. Pedagang di Tehran menutup toko sebagai bentuk protes, lalu aksi merembet ke mahasiswa dan kelompok masyarakat lain.
Sekolah dan kantor pemerintahan ditutup dengan alasan penghematan energi, namun publik menilai langkah itu hanya dalih untuk meredam demonstrasi Iran.
Bentrokan Berdarah dan Korban Jiwa
Bentrokan dengan aparat keamanan terjadi di Tehran, Lordegan, Azna, dan Marvdasht. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas, puluhan lainnya luka-luka, serta sejumlah demonstran ditangkap.
Video yang beredar menunjukkan mobil terbakar dan kekacauan di jalanan, bahkan seorang anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menjadi korban.
Pemerintah Iran Terjepit Tekanan Dalam dan Luar Negeri
Presiden Masoud Pezeshkian berjanji akan mendengarkan tuntutan sah rakyat, namun Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad mengancam akan menindak keras para perusuh.
Dari luar negeri, Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak membantai demonstran damai, sementara Teheran menuding AS dan Israel berada di balik gejolak ini.
Di tengah krisis ekonomi, tudingan soal salah kelola anggaran negara ikut mengemuka. Mantan Ketua Parlemen Mehdi Karroubi menuding pemerintah menyalahgunakan dana publik untuk lembaga agama, mempertegas bahwa demonstrasi Iran kini bukan sekadar protes harga, melainkan cermin krisis legitimasi pemerintahan.
