Beritanda.com – Aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela memicu kegaduhan pasar global pada awal 2026. Investor menyoroti potensi gangguan pasokan energi, meski pergerakan harga minyak dunia justru relatif terbatas. Situasi ini menjadi perhatian utama pelaku pasar saham dan komoditas.
Pasar Saham dan Komoditas Merespons Ketegangan Global
IHSG menguat 1,27 persen dengan inflow asing Rp38,8 miliar di tengah derasnya sentimen global. Harga minyak sempat naik 0,5 persen ke US$61 per barel sebelum akhirnya berbalik melemah 0,6 persen ke kisaran US$60 per barel.
Sementara itu, emas justru melonjak 2,3 persen hingga menembus US$4.433 per ons, menandakan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Amerika Serikat Klaim Akan Ambil Alih Industri Minyak Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan niatnya mengambil alih industri minyak Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro atas tuduhan penyelundupan narkotika dan senjata ke AS.
Trump menilai sektor minyak Venezuela mampu menghasilkan pendapatan besar jika dikelola dengan dukungan perusahaan Amerika, meski ia mengakui industri tersebut telah lama mengalami kegagalan struktural.
Namun, analis memperkirakan dampak langsung terhadap harga minyak dunia akan terbatas. OPEC+ memutuskan tetap melanjutkan rencana produksi tanpa perubahan besar, sehingga risiko lonjakan harga dalam jangka pendek dinilai kecil.
Masalah Produksi dan Infrastruktur Jadi Batu Sandungan
Venezuela memiliki cadangan minyak lebih dari 300 miliar barel, terbesar di dunia, tetapi produksinya kini bahkan sulit menembus satu juta barel per hari. Perusahaan minyak negara PDVSA kekurangan modal, keahlian, serta dibebani infrastruktur yang rusak dan seringnya pemadaman listrik.
Menurut lembaga riset Energy Aspects, menambah produksi setengah juta barel per hari membutuhkan investasi sekitar US$10 miliar dan waktu setidaknya dua tahun. Kondisi ini membuat pemulihan industri minyak Venezuela bukan pekerjaan instan, meski perusahaan Amerika berpotensi dilibatkan.
