Jakarta, Beritanda.com – Ribuan personel gabungan disiagakan mengamankan gelombang aksi unjuk rasa yang berlangsung di sejumlah titik Jakarta, Rabu 20 Mei 2026. Pengamanan besar ini bertepatan dengan pidato Presiden Prabowo Subianto di Rapat Paripurna DPR RI serta peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Sebanyak 14.237 personel gabungan dikerahkan untuk mengawal aksi yang terpusat di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Monas, hingga Jalan Medan Merdeka Selatan. Massa aksi berasal dari elemen guru nasional dan mahasiswa yang membawa tuntutan berbeda, mulai dari reformasi tata kelola pendidikan hingga kritik terhadap situasi ekonomi nasional.
Situasi ini membuat Kompleks Parlemen Senayan menjadi titik paling sensitif hari ini. Di dalam gedung, Presiden Prabowo menyampaikan pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Sementara di luar pagar parlemen, massa guru menyuarakan tuntutan kesejahteraan dan reformasi pendidikan.
Momentum ini menciptakan ironi simbolik di Hari Kebangkitan Nasional. Saat pemerintah berbicara soal arah anggaran negara, kelompok masyarakat justru turun ke jalan mempertanyakan distribusi kesejahteraan yang mereka rasakan belum merata.
Aksi pertama dimulai sejak pukul 08.00 WIB di depan Gedung DPR/MPR RI. Massa yang terdiri dari Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) bersama sejumlah organisasi pendidikan menuntut pembentukan sistem terpadu pengelolaan guru nasional serta penghapusan kesenjangan perlakuan antara guru negeri dan swasta.
Pada siang hari, gelombang berikutnya dijadwalkan datang dari aliansi mahasiswa BEM SI Kerakyatan yang berunjuk rasa di kawasan Monas.
“Kami menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat karena merupakan hak yang dilindungi undang-undang.” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.
Polisi memastikan pengamanan dilakukan secara humanis dan persuasif.
DPR Jadi Episentrum Dua Agenda Besar

Rabu ini menjadi salah satu hari paling padat di Kompleks Parlemen.
Presiden Prabowo tiba sekitar pukul 09.00 WIB sebelum menyampaikan pidato KEM-PPKF RAPBN 2027 pada pukul 10.25 WIB. Kehadiran Presiden sendiri sudah menjadi sorotan karena memecahkan tradisi lama, di mana agenda tersebut biasanya disampaikan Menteri Keuangan.
Di saat bersamaan, area luar gedung dipenuhi demonstran yang menuntut perhatian negara terhadap nasib tenaga pendidik.
Kontras ini memperlihatkan dua wajah Indonesia yang hadir bersamaan di satu lokasi: elite negara membahas desain fiskal masa depan, sementara warga mendesak solusi konkret atas persoalan kesejahteraan hari ini.
Kondisi ekonomi menjadi latar penting aksi tersebut.
Nilai tukar rupiah yang tertekan dan pelemahan daya beli ikut memperbesar keresahan publik. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada hari yang sama menilai situasi ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja.
Ia menyoroti melemahnya tabungan rumah tangga, sempitnya lapangan kerja, serta naiknya harga kebutuhan pokok yang berdampak langsung pada masyarakat.
Rekayasa Lalu Lintas dan Antisipasi Massa
Kepadatan lalu lintas diprediksi terjadi di kawasan Senayan hingga Monas sepanjang hari.
Polda Metro Jaya menyiapkan rekayasa lalu lintas situasional bergantung pada eskalasi massa di lapangan. Warga diimbau menghindari ruas jalan sekitar DPR/MPR, Monas, Tugu Proklamasi, Gedung Pelni, Kejaksaan Agung, dan Bawaslu RI.
Di balik pengamanan ketat ini, ada pesan yang sulit diabaikan.
Hari Kebangkitan Nasional tahun ini tidak hanya dipenuhi seremoni kenegaraan, tetapi juga menjadi panggung kritik publik terhadap arah kebijakan negara.
Ketika ribuan aparat menjaga stabilitas ibu kota, jalanan Jakarta justru memperlihatkan denyut tuntutan perubahan yang terus hidup.
