Beritanda.com – FIFA World Cup 2026 akan menjadi Piala Dunia paling berbeda dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu menghadirkan tiga opening ceremony terpisah di tiga negara berbeda, lengkap dengan deretan superstar global seperti Shakira, BTS, Madonna, Katy Perry hingga LISA dari BLACKPINK.
Turnamen edisi 2026 berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli dan digelar di 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Selain menjadi Piala Dunia pertama dengan format 48 tim, FIFA juga mengubah pendekatan entertainment secara besar-besaran dengan konsep “shared heartbeat” yang memadukan budaya tiga negara tuan rumah dalam satu identitas global.
Seluruh rangkaian ceremony diproduksi oleh Balich Wonder Studio, tim kreatif Italia di balik berbagai pembukaan Olimpiade dan Expo internasional.
Tiga Opening Ceremony, Tiga Identitas Budaya
Opening ceremony pertama akan digelar di Estadio Banorte atau Estadio Azteca, Mexico City, pada 11 Juni 2026 sebelum laga pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan.
FIFA memilih konsep visual berbasis papel picado, seni dekorasi kertas tradisional khas Meksiko yang identik dengan pesta dan warisan budaya. Ceremony ini menjadi yang paling panjang dengan durasi sekitar 16 menit.
Lineup musiknya dipenuhi nama besar Latin seperti Maná, Alejandro Fernández, Belinda, Los Ángeles Azules hingga J Balvin.
Salah satu detail yang paling menarik justru datang dari pemilihan Tyla. Penyanyi Afropop asal Afrika Selatan itu sengaja ditempatkan di ceremony Meksiko karena laga pembuka mempertemukan Meksiko vs Afrika Selatan. Ini menjadi simbol kuratorial yang jarang terjadi dalam event olahraga global.
Sehari setelahnya, SoFi Stadium di Los Angeles menghadirkan ceremony versi Amerika Serikat dengan pendekatan “Hollywood spectacle”. FIFA menggambarkannya sebagai pertunjukan berenergi tinggi yang mencerminkan skala dan ambisi turnamen.
Di panggung Los Angeles, Katy Perry menjadi headliner utama bersama LISA, Anitta, Rema dan rapper Future.
Katy Perry bahkan mengonfirmasi kehadirannya lewat Instagram dengan kalimat bernuansa nostalgia: “Don’t let this be The One That Got Away.”
Sementara itu, ceremony ketiga di BMO Field, Toronto, mengusung nuansa emosional dan reflektif khas Kanada. FIFA memilih lineup yang dipenuhi musisi Kanada dengan daya tarik lintas generasi seperti Michael Bublé, Alanis Morissette, Alessia Cara dan Jessie Reyez.
Shakira dan Ambisi Mengulang Fenomena Waka Waka
Nama Shakira kembali menjadi pusat strategi musik FIFA setelah merilis lagu resmi Piala Dunia 2026 berjudul Dai Dai bersama Burna Boy.
Lagu yang dirilis 14 Mei 2026 itu menggabungkan Afrobeats, dance-pop dan reggaetón dengan lirik multibahasa seperti Italia, Inggris, Spanyol hingga Jepang. Menariknya, Ed Sheeran tercatat sebagai salah satu penulis lagu di kredit Spotify.
Namun respons awal publik cukup beragam. Setelah sempat masuk Spotify Global Songs Chart, lagu tersebut keluar dari tangga lagu hanya dalam 24 jam. Situasi ini memicu banyak perbandingan dengan Waka Waka, anthem Piala Dunia 2010 yang hingga kini masih dianggap salah satu lagu olahraga paling sukses sepanjang masa.
Meski begitu, FIFA punya target yang lebih besar daripada sekadar angka streaming. Royalti lagu Dai Dai akan disalurkan ke FIFA Global Citizen Education Fund untuk mendukung akses pendidikan dan sepak bola anak-anak di seluruh dunia.
Final Piala Dunia Kini Punya Halftime Show
Transformasi terbesar FIFA justru terjadi di partai final pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium, New Jersey. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, final Piala Dunia akan memiliki halftime show resmi ala Super Bowl.
FIFA dan Global Citizen menunjuk Madonna, Shakira dan BTS sebagai co-headliner pertunjukan berdurasi sekitar 11 menit tersebut.
Kurasi acara dilakukan oleh Chris Martin dari band Coldplay.
“Madonna, Shakira and BTS are global icons whose music transcends borders and generations,” ujar Presiden FIFA Gianni Infantino dalam pernyataan resminya.
Langkah FIFA ini memperlihatkan bagaimana Piala Dunia kini berkembang bukan hanya sebagai kompetisi sepak bola, tetapi juga entertainment franchise global yang mencoba menggabungkan olahraga, musik, budaya pop, hingga isu sosial dalam satu panggung raksasa.
