Beritanda.com – Selama lebih dari satu dekade, Monica Elfriede Witt bekerja di lingkaran sensitif intelijen Amerika Serikat. Ia memegang izin keamanan tingkat tinggi, memahami operasi rahasia di Timur Tengah, dan pernah menerima sejumlah penghargaan militer bergengsi. Namun kini, nama Witt justru masuk daftar buronan FBI setelah dituduh membelot ke Iran dan membantu operasi intelijen Teheran melawan Amerika.
Kasus Witt kembali menjadi sorotan setelah FBI Washington Field Office pada 14 Mei 2026 mengumumkan hadiah USD 200 ribu bagi siapa saja yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan dan penuntutannya. Pengumuman itu muncul di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
| Profil Singkat | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Monica Elfriede Witt |
| Alias | Fatemah Zahra / Narges Witt |
| Mantan jabatan | Special Agent AFOSI |
| Bidang | Kontraintelijen Angkatan Udara AS |
| Status | Buron FBI sejak 2019 |
| Lokasi terakhir diyakini | Iran |
Witt bukan sosok biasa di lingkungan militer AS. Ia bertugas di Air Force Office of Special Investigations (AFOSI), unit yang menangani kontraintelijen dan investigasi sensitif internal Angkatan Udara Amerika Serikat.
Selama bertugas, Witt memiliki akses Sensitive Compartmented Information (SCI), level akses yang memungkinkan seseorang mengetahui detail operasi intelijen rahasia. Ia juga dikenal memiliki kemampuan bahasa Farsi dan pernah ditempatkan dalam berbagai operasi di luar negeri.
Rekam jejaknya di militer terbilang cemerlang. Witt menerima Air Medal, tiga Air Force Commendation Medals, dan tiga Aerial Achievement Medals sebelum akhirnya meninggalkan Angkatan Udara AS pada 2008.
Perjalanan yang Mengubah Segalanya
Perubahan hidup Witt mulai terlihat pada 2012 ketika ia menghadiri konferensi “Hollywoodism” di Iran yang diselenggarakan organisasi New Horizon, kelompok yang kemudian dikaitkan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Menurut mantan pejabat senior CIA, John Sipher, konferensi seperti itu memang sering dipakai sebagai ruang identifikasi dan pendekatan calon aset intelijen asing.
“Itulah mengapa mereka mendirikan acara-acara seperti itu — untuk melihat siapa yang akan berguna atau siapa yang bersedia mengikatkan diri dengan pemerintah Iran,” ujar Sipher.
Selama konferensi berlangsung, Witt disebut mulai menunjukkan sikap yang semakin kritis terhadap pemerintah Amerika Serikat. Ia juga muncul dalam sejumlah video media Iran dan mengucapkan syahadat untuk berpindah agama menjadi Islam.
Sekembalinya ke Amerika Serikat, perubahan Witt makin terlihat. Rekan-rekan kampusnya di George Washington University menyebut Witt mulai mengenakan hijab dan sering menyampaikan pandangan positif terhadap Iran.
Salah seorang mahasiswa bahkan menggambarkan presentasi akhir Witt sebagai “surat cinta untuk Iran.”
FBI Sempat Memberi Peringatan
Yang membuat kasus ini semakin kontroversial, FBI sebenarnya sempat memperingatkan Witt sebelum ia membelot.
Pada pertengahan 2013, agen FBI mendatanginya dan menyampaikan bahwa dirinya kemungkinan sedang menjadi target rekrutmen intelijen Iran. Witt kala itu dilaporkan berjanji tidak akan membocorkan informasi sensitif apabila kembali ke Iran.
Namun hanya dalam hitungan waktu singkat, Witt justru meninggalkan Amerika Serikat menuju Teheran pada Agustus 2013.
Dalam salah satu komunikasinya dengan kontak Iran, Witt bahkan sempat menulis kalimat yang menyinggung nama Edward Snowden.
“If all else fails, I just may go public with a program and do like Snowden,” tulis Witt dalam pesan yang kemudian muncul dalam dakwaan AS.
Setelah tiba di Iran, pemerintah Iran diduga menyediakan tempat tinggal dan perangkat komputer untuk mendukung aktivitas intelijennya.
Dituduh Membantu Operasi Intelijen Iran
Jaksa AS menuduh Witt menyerahkan informasi pertahanan nasional Amerika Serikat kepada Iran, termasuk identitas personel intelijen dan detail program rahasia pemerintah AS.
Departemen Kehakiman AS juga menuduh Witt membantu operasi siber Iran yang menargetkan mantan rekan-rekannya di komunitas intelijen Amerika.
Empat warga Iran ikut didakwa dalam kasus yang sama atas tuduhan konspirasi, penyusupan sistem komputer, dan pencurian identitas.
Pada 2019, pejabat Departemen Kehakiman AS menyebut tindakan Witt berpotensi membahayakan nyawa seorang perwira intelijen Amerika setelah identitasnya diduga dibocorkan kepada Iran.
Meski telah didakwa sejak 2019, Witt belum pernah diadili karena diyakini berada di Iran, negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat.
Kasus ini kembali relevan pada 2026 karena situasi geopolitik berubah drastis. Di tengah konflik terbuka AS-Iran, mantan agen kontraintelijen yang memahami operasi rahasia Amerika dianggap bukan sekadar buronan lama, tetapi ancaman strategis yang masih mungkin aktif membantu Teheran.
Special Agent in Charge FBI Washington Field Office, Daniel Wierzbicki, mengatakan FBI percaya masih ada pihak yang mengetahui keberadaan Witt.
“FBI tidak melupakan dan percaya bahwa selama momen kritis dalam sejarah Iran ini, ada seseorang yang mengetahui sesuatu tentang keberadaannya,” ujar Wierzbicki.
Hingga kini, pemerintah Iran tidak pernah secara resmi mengakui keberadaan Witt di wilayahnya. Sementara itu, seluruh tuduhan terhadap Witt masih berstatus dakwaan dan belum pernah diuji dalam persidangan terbuka.
