Home » News » Internasional » Austria Kerahkan Jet Tempur Eurofighter Cegat Pesawat AS Tanpa Izin
Jet Tempur Eurogihter TyphoonAustria kerahkan Jet tempur Eurofighter untuk cegat 2 pesawat militer Amerika Serikat yang memasuki wilayah udara tanpa izin.

Beritanda.com – Austria mengerahkan jet tempur Eurofighter Typhoon untuk mencegat dua pesawat militer Amerika Serikat yang memasuki wilayah udaranya tanpa izin diplomatik pada 10 dan 11 Mei 2026. Insiden ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan antara Washington dan sejumlah negara Eropa terkait operasi militer pasca perang AS-Israel melawan Iran.

Kementerian Pertahanan Austria mengonfirmasi bahwa dua pesawat turboprop milik Angkatan Udara AS jenis PC-12/U-28A Draco terdeteksi melintas di atas wilayah Austria Hulu dekat pegunungan Totes Gebirge. Setelah kontak visual dilakukan oleh Eurofighter Austria, pesawat AS berbalik arah menuju Munich, Jerman.

TanggalPeristiwa
10 Mei 2026Dua pesawat AS dicegat Eurofighter Austria di wilayah Austria Hulu
11 Mei 2026Austria kembali mengerahkan intersepsi “Priority A” terhadap pesawat AS
12–13 Mei 2026Kemhan Austria mengonfirmasi insiden melalui pernyataan resmi

Juru bicara Kementerian Pertahanan Austria, Michael Bauer, menyatakan insiden tersebut akan diselesaikan melalui jalur diplomatik. Namun respons cepat Austria menunjukkan Wina memandang pelanggaran itu sebagai isu serius, bukan sekadar kesalahan navigasi biasa.

Austria Tegaskan Netralitas di Tengah Perang Iran

Insiden ini muncul setelah Austria secara terbuka menolak seluruh permintaan penerbangan militer AS yang berkaitan dengan konflik Iran sejak awal 2026. Pemerintah Austria menegaskan kebijakan netralitas nasional tidak mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk mendukung pihak yang sedang berperang.

“Pertanyaannya adalah mengapa mengajukan permintaan kepada negara netral?” ujar Kolonel Michael Bauer dalam respons sebelumnya terkait permintaan penerbangan AS.

Sikap Austria sejalan dengan beberapa negara Eropa lain seperti Swiss, Spanyol, Italia, dan Prancis yang juga memperketat penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militer mereka untuk operasi terkait Iran.

Wakil Kanselir Austria Andreas Babler bahkan menegaskan posisi negaranya secara terbuka pada April lalu.

“Netralitas adalah aset berharga di negara kita. Tidak untuk perang,” kata Andreas Babler.

Respons keras Austria kali ini juga memperlihatkan perubahan penting. Jika sebelumnya negara itu dikenal cenderung berhati-hati menghadapi tekanan geopolitik besar, kini Wina mulai menunjukkan kapasitas penegakan kedaulatan udara secara lebih terbuka dan agresif.

Mengapa Pesawat U-28A Jadi Sorotan?

Pesawat yang terlibat bukan jet tempur biasa. U-28A Draco merupakan varian militer dari Pilatus PC-12 yang dioperasikan Air Force Special Operations Command (AFSOC) AS untuk misi pengintaian, intelijen sinyal, dan dukungan operasi khusus.

Pesawat ini dirancang untuk terbang rendah, tidak mencolok, dan mampu membawa sensor elektro-optik berteknologi tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, AS juga meningkatkan kemampuan U-28A dengan sistem pengintaian multi-spektral jarak jauh yang memungkinkan operasi lebih sulit dideteksi.

Fakta bahwa Austria tetap mampu melacak dan mengintersep pesawat tersebut menjadi perhatian tersendiri di kalangan pengamat pertahanan Eropa.

Yang juga menarik, insiden ini mengingatkan kembali pada kontroversi tahun 2002 ketika Angkatan Udara AS disebut mencoba menyelundupkan jet siluman F-117A melalui wilayah Austria menjelang Perang Irak dengan memanfaatkan penerbangan tanker yang telah mendapat izin.

Artinya, pola ketegangan soal penggunaan wilayah udara Austria oleh militer AS bukan hal baru. Bedanya, kali ini Austria memilih mengungkap insiden tersebut secara publik.

Dampak Diplomatik Bisa Meluas

Intersepsi ini memperbesar tekanan diplomatik antara AS dan sejumlah sekutu Eropa. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengkritik negara-negara Eropa yang menolak mendukung operasi udara Washington terkait Iran.

Di sisi lain, insiden Austria memperlihatkan munculnya kekhawatiran baru di Eropa soal keterlibatan lebih jauh dalam konflik Timur Tengah. Negara-negara netral kini tampak semakin berhati-hati agar tidak dianggap ikut berpihak secara militer.

Dalam jangka pendek, kasus ini kemungkinan berujung pada protes diplomatik tertutup antara Washington dan Wina. Namun dalam jangka panjang, peristiwa tersebut dapat memperdalam retakan koordinasi keamanan antara AS dan sebagian sekutu Eropa, terutama terkait operasi militer lintas wilayah udara NATO dan negara netral.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News