Beritanda.com – Iran menyatakan Selat Hormuz telah “sepenuhnya terbuka” sejak 18 April 2026, namun puluhan kapal komersial justru masih tertahan di luar jalur, mencerminkan krisis kepercayaan yang belum pulih meski konflik mereda.
Pembukaan yang Belum Sepenuhnya Nyata
Secara resmi, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengumumkan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka untuk kapal komersial selama periode gencatan senjata. Pernyataan ini langsung mengguncang pasar global.
Harga minyak mentah anjlok tajam. West Texas Intermediate turun lebih dari 10 persen, sementara Brent melemah hampir 9 persen. Bursa saham AS justru melonjak, dengan Dow Jones naik ratusan poin dalam satu sesi.
Namun di laut, situasinya berbeda.
Data pelayaran menunjukkan sekitar 20 kapal mulai mendekati selat pada Jumat malam. Alih-alih melintas, sebagian berhenti, bahkan berbalik arah. Hingga Sabtu tengah malam waktu Teheran, tanker minyak dan kapal kontainer masih mengelompok di kedua sisi selat.
Kondisi ini memperlihatkan satu hal yang jarang disorot: pembukaan jalur tidak otomatis berarti jalur itu aman digunakan.
Aturan Ketat dan Risiko yang Membayangi
Iran memang membuka akses, tetapi dengan sejumlah syarat. Kapal diwajibkan mengikuti “coordinated route” di bagian utara selat, dekat Pulau Larak. Selain itu, hanya kapal non-militer yang diizinkan melintas, dengan otorisasi dari Angkatan Laut IRGC.
Di saat yang sama, Amerika Serikat tetap menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran di Teluk Oman. Kebijakan ini menciptakan situasi yang paradoks: jalur dibuka, tetapi tekanan militer tetap tinggi.
“Blokade laut akan tetap berlaku sepenuhnya terhadap Iran sampai kesepakatan benar-benar selesai,” tegas Presiden AS Donald Trump.
Ketidakpastian ini diperparah oleh isu keamanan lain, seperti status ranjau laut yang belum sepenuhnya terverifikasi bersih. Bagi operator kapal, risiko bukan hanya soal serangan, tetapi juga soal asuransi.
“Masih akan ada keraguan dari pemilik kapal, karena risiko dan asuransi tetap menjadi masalah besar. Ini seperti permainan siapa yang berani duluan,” ujar analis pasar minyak, June Goh.
Krisis Kepercayaan Jadi Hambatan Utama
Di atas kertas, pembukaan Selat Hormuz adalah kabar baik. Jalur ini selama ini menjadi urat nadi energi dunia, dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global dan seperlima perdagangan LNG.
Namun krisis tujuh minggu terakhir telah meninggalkan dampak psikologis yang dalam.
Selama penutupan, harga minyak sempat melonjak di atas 120 dolar per barel. Pasar LNG Asia naik lebih dari 140 persen. Bahkan sektor non-energi seperti pupuk dan logam ikut terdampak.
Kini, meski harga mulai turun, pelaku industri tidak langsung kembali normal. Mereka menghadapi backlog logistik, ketidakpastian keamanan, dan risiko kebijakan yang bisa berubah dalam hitungan hari.
“Penutupan jalur udara dan pelayaran selama berminggu-minggu telah menciptakan penumpukan yang kemungkinan butuh waktu lama untuk pulih,” kata Wakil Presiden Kebijakan International Rescue Committee, Kelly Razzouk.
Situasi “Setengah Terbuka” yang Rapuh
Masalah utama bukan lagi apakah Selat Hormuz terbuka, melainkan apakah dunia percaya bahwa jalur itu akan tetap terbuka.
Pembukaan ini sendiri terikat pada gencatan senjata yang bersifat sementara. Gencatan senjata Israel-Lebanon hanya berlaku 10 hari, sementara kesepakatan AS-Iran dijadwalkan berakhir pada 22 April.
Di sisi lain, Iran juga memberi sinyal keras. Jika blokade AS berlanjut, mereka siap mengambil langkah balasan.
Artinya, risiko penutupan kembali tetap nyata.
Dalam konteks ini, Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi “setengah terbuka”. Secara teknis bisa dilalui, tetapi secara praktis masih dihindari.
Bagi pasar global, ini menjadi pengingat penting: krisis energi modern bukan hanya soal suplai, tetapi juga soal stabilitas geopolitik dan kepercayaan.
