Beritanda.com – Rencana pembelajaran daring yang sempat ramai dibahas mendadak dibatalkan. Keputusan ini diumumkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada 25 Maret 2026, setelah pemerintah menilai sistem ini berisiko menurunkan kualitas belajar siswa.
Pembelajaran Daring Resmi Dibatalkan, Kenapa Mendadak?
Keputusan soal pembelajaran daring ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ada proses yang cukup cepat—dan sedikit mengejutkan.
Awalnya, pemerintah sempat mempertimbangkan skema daring atau hybrid untuk April 2026. Isunya? Krisis energi global yang dikhawatirkan berdampak pada aktivitas pendidikan.
Namun, dalam hitungan hari, arah kebijakan berubah.
“Pembelajaran di sekolah dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik.” — ujar Mendikdasmen, Abdul Mu’ti.
Artinya jelas: sekolah kembali ke mode tatap muka penuh.
Kronologi Singkat Pembatalan
Agar lebih mudah dipahami, ini rangkaian kejadiannya:
- Agustus 2025: Pemerintah rancang peta jalan PJJ
- Maret 2026 (awal): Muncul wacana pembelajaran daring/hybrid
- 23 Maret 2026: Arahan pembatalan dari Kemenko PMK
- 25 Maret 2026: Resmi diumumkan dibatalkan
Cepat. Dan cukup drastis.
Alasan Utama Pembatalan Pembelajaran Daring
Jadi, kenapa pembelajaran daring akhirnya tidak jadi diterapkan?
Jawabannya bukan satu. Tapi kombinasi beberapa faktor penting.
1. Interaksi Langsung Dinilai Tak Tergantikan
Belajar itu bukan sekadar materi.
Ada diskusi. Ada ekspresi. Ada interaksi spontan.
Dan menurut Kemendikdasmen, semua itu sulit digantikan teknologi.
2. Risiko Learning Loss Jadi Kekhawatiran Besar
Istilahnya mungkin terdengar teknis: learning loss.
Tapi dampaknya nyata—penurunan pemahaman siswa karena pembelajaran tidak optimal.
Pemerintah tidak ingin “mengulang pengalaman” yang pernah terjadi saat pandemi.
3. Krisis Energi Tak Berdampak Signifikan
Awalnya, pembelajaran daring dipertimbangkan sebagai antisipasi.
Namun setelah dikaji, dampak krisis energi global ke Indonesia dinilai tidak cukup besar untuk mengubah sistem belajar.
Jadi, tidak ada urgensi kuat.
Lalu, Apakah Pembelajaran Daring Dihentikan Total?
Nah, ini yang sering disalahpahami.
Pembelajaran daring tidak benar-benar “dihapus”.
Justru, program ini tetap berjalan—tapi dengan tujuan yang berbeda.
PJJ Tetap Jalan, Tapi Bukan untuk Semua
Pemerintah tetap mengembangkan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
Targetnya spesifik:
- 3,9 juta anak putus sekolah (ATS)
- Siswa di daerah terpencil
- Anak dengan keterbatasan akses pendidikan
“PJJ menjadi strategi untuk menjangkau anak-anak yang belum terlayani pendidikan.” — ujar Abdul Mu’ti.
Jadi, bukan pengganti sekolah biasa. Tapi solusi untuk yang “tidak terjangkau”.
Peta Jalan PJJ Sampai 2029
Program ini bahkan punya roadmap jelas:
- 2025: Uji coba awal
- 2027: 3.400 murid di 34 provinsi
- 2028: Ekspansi oleh pemerintah daerah
- 2029: Target sekolah jarak jauh nasional
Dengan kata lain, pembelajaran daring tetap hidup—hanya tidak untuk penggunaan massal.
Kesimpulan: Fokus Kembali ke Kelas, Tapi Digital Tetap Jalan
Keputusan membatalkan pembelajaran daring mungkin terasa mundur bagi sebagian orang.
Tapi jika dilihat lebih dekat, ini lebih ke penyesuaian strategi.
Sekolah tatap muka tetap jadi “inti”.
Sementara daring jadi “jembatan” untuk yang membutuhkan.
Dan mungkin, di sinilah arah pendidikan Indonesia ke depan: bukan memilih salah satu, tapi menempatkan keduanya di posisi yang tepat.
