Beritanda.com – Pernah merasa pilihan hidup justru menjauhkan Anda dari keluarga? Senin Harga Naik menghadirkan luka itu dengan jujur, lewat kisah Mutia yang harus memilih antara ambisi karier atau mempertahankan hubungan dengan ibunya.
Film Senin Harga Naik resmi tayang di Indonesia pada 18 Maret 2026. Disutradarai Dinna Jasanti, film ini mengangkat konflik keluarga yang terasa sangat dekat, dibalut drama dan sentuhan komedi ringan yang tidak berlebihan.
Konflik Keluarga di “Senin Harga Naik” Terasa Menampar Realita
Cerita Senin Harga Naik berpusat pada Mutia, seorang perempuan yang awalnya menempuh pendidikan farmasi, tapi justru memilih karier di dunia properti. Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.
Ia berselisih dengan ibunya, Retno. Bukan sekadar beda pendapat—ini konflik yang cukup dalam hingga membuat Mutia pergi dari rumah.
Tiga tahun berlalu. Hidup Mutia terlihat “naik kelas”. Ia bahkan dipromosikan menjadi General Manager. Tapi… ada harga yang harus dibayar.
Syaratnya? Ia harus melakukan clearing lahan. Dan plot twist-nya cukup menohok—lahan itu adalah rumah sekaligus toko roti milik ibunya sendiri.
Di titik ini, Senin Harga Naik tidak lagi sekadar drama. Ini jadi cermin. Tentang ambisi. Tentang ego. Tentang jarak yang diam-diam melebar dalam keluarga.
Ambisi vs Keluarga: Dilema yang Tidak Punya Jawaban Mudah
Coba bayangkan posisi Mutia. Di satu sisi:
- Karier sedang di puncak
- Kesempatan besar di depan mata
- Validasi atas pilihan hidupnya
Di sisi lain:
- Rumah masa kecil
- Ibu yang pernah ia tinggalkan
- Kenangan yang tidak bisa dibeli ulang
Konflik ini terasa nyata. Bukan dramatisasi berlebihan. Justru sederhana—dan itu yang bikin kena.
Seperti yang disampaikan produsernya:
“Film ini dihadirkan sebagai pengingat bahwa momen berkumpul bersama keluarga semakin jarang terjadi di tengah kesibukan kehidupan…” — ujar Chand Parwez Servia.
Kalimat itu seperti tamparan halus. Kita sibuk mengejar “harga naik” dalam hidup, tapi diam-diam kehilangan sesuatu yang tidak tergantikan.
Akting Jadi Nyawa, Bukan Sekadar Pelengkap
Yang membuat Senin Harga Naik hidup bukan cuma ceritanya, tapi juga para pemainnya.
Beberapa kekuatan utama film ini:
- Meriam Bellina tampil kuat sebagai sosok ibu yang tegar, tapi rapuh di dalam
- Nadya Arina berhasil membawakan konflik batin dengan cukup natural
- Chemistry antar saudara terasa tidak dibuat-buat
- Toko roti “Mercusuar” jadi latar yang bukan hanya tempat, tapi simbol
Simbolismenya pun menarik. Mutia sering memakai biru—dingin, rasional. Sementara Retno identik dengan merah atau pink—hangat, emosional.
Dan “Mercusuar”? Itu bukan sekadar nama toko. Itu metafora. Bahwa ibu adalah tempat pulang, bahkan saat kita tersesat jauh.
Tidak Sempurna, Tapi Justru Itu yang Membuatnya Jujur
Meski kuat secara emosi, film ini bukan tanpa cela.
Beberapa catatan yang terasa:
- Tempo di awal cenderung lambat
- Beberapa komedi terasa kurang pas
- Ending terasa agak terburu-buru bagi sebagian penonton
Namun anehnya, ketidaksempurnaan itu justru membuat Senin Harga Naik terasa lebih manusiawi.
Tidak semua konflik hidup punya resolusi rapi. Kadang, yang ada hanya… penerimaan.
Di tengah deretan film Lebaran 2026, Senin Harga Naik mungkin bukan yang paling ramai dibicarakan. Tapi justru di situlah kekuatannya—diam-diam menghantam emosi penonton.
Pada akhirnya, film ini seperti mengingatkan satu hal sederhana:
Tidak semua yang “naik” dalam hidup harus dibayar dengan kehilangan keluarga.
