Beritanda.com – Penutupan 1.512 SPPG mendadak di Pulau Jawa sempat memicu spekulasi liar: apakah ini akibat kasus keracunan massal? Faktanya berbeda. Pemerintah menghentikan operasional ribuan dapur Program Makan Bergizi Gratis karena pelanggaran standar dasar.
Langkah ini diumumkan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 10–11 Maret 2026 setelah evaluasi besar terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ribuan dapur MBG dihentikan sementara karena belum memenuhi syarat sanitasi, pengelolaan limbah, hingga fasilitas operasional dasar.
Fakta Mengejutkan di Balik Penutupan 1.512 SPPG
Banyak orang mengira 1.512 SPPG ditutup karena langsung terkait kasus keracunan makanan. Namun hasil evaluasi BGN menunjukkan alasan utamanya justru soal ketidakpatuhan terhadap standar operasional dasar.
Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Albertus Dony Dewantoro, menegaskan penghentian ini bersifat sementara.
“Ada 1.512 SPPG kita hentikan sementara operasionalnya. Ini tindak lanjut evaluasi pemenuhan standar operasional serta persyaratan sarana prasarana di sejumlah SPPG,” — ujar Albertus Dony Dewantoro.
BGN memastikan dapur yang ditutup dapat kembali beroperasi setelah seluruh standar dipenuhi.
Masalah Utama yang Ditemukan BGN
Evaluasi terhadap 1.512 SPPG menemukan beberapa pelanggaran mendasar yang sebenarnya tidak bisa ditawar dalam layanan makanan publik.
Berikut temuan utama:
- Belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)
1.043 unit dapur belum mengantongi sertifikat ini. - Tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
443 dapur belum memiliki sistem pengolahan limbah yang layak. - Fasilitas petugas belum memadai
175 SPPG belum menyediakan tempat tinggal bagi petugas inti.
Masalah-masalah ini dianggap berisiko bagi keamanan pangan, terutama karena program MBG menyasar kelompok rentan seperti siswa, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Provinsi dengan Penutupan SPPG Terbanyak
Penutupan 1.512 SPPG terjadi di enam provinsi di Pulau Jawa. Distribusinya cukup timpang.
Daftar wilayah terdampak:
- Jawa Timur – 788 SPPG
- Jawa Barat – 350 SPPG
- DI Yogyakarta – 208 SPPG
- Banten – 62 SPPG
- Jawa Tengah – 54 SPPG
- DKI Jakarta – 50 SPPG
Artinya, lebih dari setengah dapur yang ditutup berada di Jawa Timur.
Bayang-Bayang Kasus Keracunan Program MBG
Meski penutupan 1.512 SPPG bukan langsung akibat keracunan, program MBG memang sempat dibayangi kasus keamanan pangan.
Data pemantauan menunjukkan:
- 6.457 korban keracunan hingga September 2025
- 11.566 korban pada pertengahan Oktober 2025
- 16.109 korban per 31 Oktober 2025
Lonjakan terbesar terjadi pada Oktober 2025, yang memicu evaluasi besar terhadap operasional dapur MBG di berbagai daerah.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan banyak insiden terjadi di dapur yang baru beroperasi.
“Data menunjukkan kasus banyak dialami oleh SPPG yang baru beroperasi, karena SDM masih membutuhkan jam terbang,” — ujar Dadan Hindayana.
Langkah Perbaikan Setelah Penutupan 1.512 SPPG
Pemerintah menegaskan penghentian 1.512 SPPG bukan berarti program makan bergizi gratis dihentikan.
Sebaliknya, langkah ini disebut sebagai fase koreksi besar agar program berjalan lebih aman.
BGN menyatakan dapur yang telah memenuhi standar sanitasi, pengolahan limbah, dan fasilitas operasional akan dibuka kembali secara bertahap.
Di tengah ambisi besar program MBG yang menargetkan puluhan juta penerima manfaat, evaluasi ini menjadi pengingat penting: dapur besar tidak cukup hanya dengan anggaran besar—standar keamanan tetap yang utama.
