Beritanda.com – Dunia energi memanas, dan efeknya langsung terasa ke ekspor sawit Indonesia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada 28 Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak sekaligus mengancam jalur perdagangan sawit ke Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini membuat jalur pelayaran vital terganggu. Negara tujuan ekspor seperti UEA, Oman, hingga Arab Saudi kini berada dalam bayang-bayang gangguan logistik dan ketidakpastian perdagangan.
Penutupan Selat Hormuz Mengancam Ekspor Sawit Indonesia
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Ia adalah salah satu “kran energi dunia” yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Ketika Iran menutup jalur ini pada 28 Februari 2026, efek domino langsung terasa. Harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak Brent yang sebelumnya berada di sekitar 72,87 dolar AS per barel sebelum konflik, melesat hingga di atas 100 dolar AS per barel pada awal Maret 2026.
Lonjakan ini bukan hanya soal energi. Ia juga berdampak pada ekspor sawit Indonesia, terutama ke kawasan Timur Tengah.
Padahal kawasan tersebut merupakan pasar penting bagi produk sawit Indonesia.
Menurut data GAPKI sepanjang 2025, ekspor CPO Indonesia ke Timur Tengah mencapai 1,83 juta ton dengan nilai sekitar 1,9 miliar dolar AS.
Negara tujuan utamanya meliputi:
- Arab Saudi – 651.000 ton
- Uni Emirat Arab (UEA) – 475.000 ton
- Oman – 219.000 ton
- Irak – 124.000 ton
- Israel – 30.000 ton
- Iran – 24.000 ton
Artinya, ketika jalur perdagangan terganggu, dampaknya langsung terasa pada ekspor sawit nasional.
Transportasi Laut Jadi Titik Paling Rentan
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menilai persoalan utama terletak pada transportasi laut.
“Pertama, yang menjadi masalah adalah transport terganggu. Kalau transport terganggu, ekspor akan terganggu,” — ujar Eddy Martono.
Menurutnya, kapal pengangkut CPO sebenarnya masih bisa mengambil jalur alternatif untuk menghindari wilayah konflik. Namun pilihan tersebut tidak murah.
Dalam banyak kasus, kapal harus memutar rute pelayaran, yang otomatis meningkatkan biaya logistik.
Ekspor Sawit ke Negara Teluk Berpotensi Tertunda
Selain faktor jalur pelayaran, perang di Timur Tengah juga memicu penurunan permintaan dari sejumlah negara importir.
Negara yang berpotensi terdampak antara lain:
- Uni Emirat Arab
- Oman
- Arab Saudi
- Irak
- Iran
Lonjakan biaya logistik global bahkan diperkirakan mencapai sekitar 50 persen sejak konflik memanas.
Kenaikan biaya ini membuat harga CPO menjadi lebih mahal di pasar tujuan, yang pada akhirnya menekan permintaan.
Kontrak Ekspor Mulai Ditangguhkan
Dampak konflik bahkan sudah terasa di tingkat pelabuhan daerah. Ketua DPW ALFI Lampung Senoharto mengungkapkan bahwa sejumlah kontrak ekspor mulai tertunda karena kapal enggan melintas di sekitar wilayah konflik.

“Banyak kontrak yang ditangguhkan. Kapal yang melewati perairan sekitar Iran enggan melakukannya,” — ujar Senoharto.
Data Karantina Lampung menunjukkan pada Januari hingga Februari 2026 terdapat 162 pengiriman komoditas pertanian dengan volume sekitar 41.372 ton senilai Rp394 miliar.
Tujuan ekspor tersebut antara lain:
- Uni Emirat Arab
- Arab Saudi
- Oman
- Turki
- Pakistan
Namun sejak konflik memanas pada Maret 2026, potensi gangguan ekspor mulai meningkat.
Harga Sawit Naik, Tapi Ekspor Bisa Melambat
Di tengah ketidakpastian logistik, harga minyak sawit justru menunjukkan tren naik.
Harga CPO di Bursa Malaysia bahkan sempat menembus 4.568 ringgit per ton pada 10 Maret 2026 — level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan harga ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak bumi yang meningkatkan ekspektasi permintaan biodiesel.
Namun di balik kenaikan tersebut tersimpan paradoks. Harga naik, tetapi ekspor sawit bisa melambat karena jalur distribusi terganggu.
Jika konflik berlangsung lama, tekanan terhadap perdagangan global — termasuk ekspor sawit Indonesia — berpotensi semakin besar.
