Beritanda.com – Gelombang megatsunami setinggi 200 meter baru saja terungkap menghantam wilayah Greenland akibat longsoran es masif seberat jutaan ton di tahun 2023. Peristiwa alam dahsyat ini terjadi di Dickson Fjord dan sukses membuat seluruh permukaan Bumi bergetar tanpa henti selama sembilan hari.
Kedahsyatan Gelombang Setinggi Pencakar Langit
Dunia sains terkejut dengan temuan terbaru mengenai megatsunami setinggi 200 meter yang menghajar kawasan Greenland. Gelombang raksasa ini muncul setelah 25 juta meter kubik batu dan es jatuh dari lereng gunung yang sangat curam.
Bayangkan sebuah dinding air yang tingginya hampir menyamai gedung pencakar langit menyapu fyord yang sempit. Jatuhnya material es ini terjadi dari ketinggian antara 600 hingga 900 meter di atas permukaan laut.
Ilmuwan awalnya tidak menyadari kejadian ini karena lokasinya yang sangat terpencil dan jauh dari pemukiman manusia. Fenomena megatsunami ini baru berhasil terungkap setahun setelah bencana itu benar-benar terjadi di lapangan.
Citra satelit kemudian mengonfirmasi adanya empat titik longsor baru yang memicu perpindahan air secara masif. Kristian Svennevig dari Survei Geologi Denmark dan Greenland menyebutkan bahwa semua orang sempat bingung saat memulai penelitian ini.
“Kami hanya tahu kaitannya dengan tanah longsor. Kami berhasil memecahkan teka-teki ini lewat upaya interdisipliner dan internasional yang besar,” ujar Svennevig dalam keterangannya.
Getaran Megatsunami Selama Sembilan Hari
Dampak dari megatsunami ini bukan hanya menciptakan gelombang besar, melainkan juga getaran seismik yang sangat aneh. Alat pendeteksi gempa di berbagai belahan dunia menangkap dengungan monoton yang terus berbunyi selama sembilan hari.
Biasanya, getaran akibat gempa bumi hanya akan bertahan selama beberapa menit sebelum akhirnya menghilang. Stephen Hicks dari University College of London bahkan sempat mengira alat pendeteksi miliknya mengalami kerusakan teknis.
“Sinyal gempa biasanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi sinyal ini berlangsung selama sembilan hari. Sesuatu semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tegas Hicks menggambarkan keheranannya.
Energi dari megatsunami yang terperangkap di dalam Dickson Fjord menciptakan fenomena bernama seiche. Air bergerak maju mundur secara berirama di ruang tertutup, mirip dengan guncangan air di dalam bak mandi.
Gerakan air raksasa yang terus menghantam dinding fyord inilah yang mengirimkan gelombang energi ke kerak Bumi. Durasi getaran yang mencapai sembilan hari dianggap sebagai rekor yang belum pernah terdokumentasi dalam sejarah modern.
Dampak Megatsunami dari Jutaan Ton Es
Ketidakstabilan gunung yang menjulang 1.200 meter di atas Dickson Fjord menjadi biang keladi utama bencana megatsunami ini. Pemanasan global menyebabkan gletser di dasar gunung mencair dan kehilangan kemampuan menopang beban di atasnya.
Ribuan ton puing-puing jatuh ke air pada 16 September 2023 dan langsung menciptakan kekacauan hidrolik. Para peneliti meyakini bahwa perubahan pola presipitasi dan suhu ekstrem juga mempercepat keruntuhan lereng gunung tersebut.
Tim peneliti lintas negara harus bekerja keras menganalisis data satelit dan simulasi gelombang untuk memahami skalanya. Penemuan megatsunami ini menjadi pengingat betapa besarnya energi alam yang tersimpan di balik lapisan es yang mencair.
Kristian Svennevig menekankan betapa mustahilnya durasi seiche ini bagi pemikiran sains di masa lalu. “Seandainya saya mengatakan setahun yang lalu bahwa seiche dapat bertahan selama sembilan hari, orang-orang akan menggelengkan kepala,” tambahnya.
Kini, Greenland tidak hanya dipandang sebagai wilayah strategis yang kaya akan mineral penting bagi industri global. Pulau ini telah menjadi saksi bisu dari kekuatan megatsunami yang sanggup menggetarkan planet kita dalam durasi yang sangat lama.
