Semarang, Beritanda.com – Peringatan Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro akan digelar di Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu, Tembalang, Kota Semarang, pada 21–23 Januari 2026. Kegiatan tahunan ini melibatkan santri, alumni, dan warga Nahdliyin dari berbagai daerah sebagai upaya merawat sanad keilmuan, nilai keislaman, serta semangat kebangsaan. Panitia menegaskan Haul tidak sekadar tradisi, tetapi momentum refleksi sejarah dan perjuangan para leluhur.
Haul sebagai Penjaga Sanad Keilmuan dan Sejarah
Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro kembali menjadi ruang pertemuan spiritual dan kultural yang sarat makna. Ketua Panitia Haul 2026, Ahmad Khafash Sonifan Nur, menyampaikan bahwa peringatan ini dirancang sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan sanad keilmuan dan nilai perjuangan yang diwariskan para ulama serta tokoh bangsa.
“Haul ini menjadi ruang silaturahmi, refleksi sejarah, sekaligus wasilah ngalap berkah dari para ulama dan pejuang. Kami mengajak masyarakat luas untuk hadir dan ikut meramaikan rangkaian kegiatan haul ini,” ujarnya dalam Majlis Rutinan Maulid Simthut Durror PP Kyai Galang Sewu, Senin (19/01/2026).
Menurut panitia, Haul memuat pesan penting tentang keterhubungan generasi. Nilai keilmuan tidak berdiri sendiri, melainkan mengalir melalui sanad yang dijaga dengan adab, khidmah, dan keteladanan. Dalam konteks kebangsaan, sosok Pangeran Diponegoro dipandang sebagai simbol perlawanan dan keteguhan moral yang relevan lintas zaman.
Pesan Khidmah dan Tanggung Jawab Kolektif
Pengasuh Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu, KH M Nur Salafuddin, menekankan pentingnya kesadaran peran seluruh pihak dalam menyukseskan Haul. Ia mengajak santri dan keluarga besar pesantren untuk menata niat khidmah dan mengambil keberkahan dari para dzurriyah serta leluhur.
“Kita bersama-sama untuk khidmah, jangan sampai tidak ikut andil, jangan sampai hanya diam saja dengan adanya kegiatan ini. Saling membantu satu sama lain, karena di sini kita semua sama-sama berniat khidmah. Baik santri sepuh maupun santri muda, santri mukim maupun kalong, bahkan pengasuh sendiri niatnya juga khidmah Insyaa Allah, kulo panjenengan sedoyo nderek sareng-sareng khidmah, bakal tambah barokah,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa Haul bukan sekadar acara seremonial. Setiap elemen memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat aktif, menjaga ketertiban, dan memastikan nilai-nilai yang diwariskan dapat diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian Ibadah dan Tradisi yang Menyatu
Panitia menyiapkan rangkaian kegiatan yang mencerminkan perpaduan ibadah, tradisi, dan edukasi. Sima’atul Qur’an digelar pada Rabu–Kamis (21–22 Januari 2026) di Makam Krapyak, Masjid Al-Ikhlas, dan Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu. Khataman Sima’atul Qur’an dilaksanakan Kamis (22 Januari 2026) pukul 15.30 WIB hingga selesai di Makam Krapyak Tembalang.
Khotmil Qur’an Santri Putra Bil Hifdzi dan Bin Nadzri berlangsung Jumat (23 Januari 2026) pukul 08.30–10.30 WIB, disusul Khotmil Qur’an Santri Putri pada pukul 13.00–15.00 WIB di Masjid Al-Ikhlas. Kirab Santri dijadwalkan pukul 15.00 WIB menyusuri Jalan Jurang Blimbing, Tembalang.
Puncak Haul ditandai Pengajian Akbar bersama KH M Syarofuddin Ismail Qoimaz, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang, pada Jumat (23 Januari 2026) pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu. Melalui Haul ini, panitia berharap masyarakat hadir untuk berdoa bersama dan meneguhkan kecintaan kepada ulama, leluhur, serta nilai perjuangan Islam dan kebangsaan.
