Beritanda.com – Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus infeksi di kapal pesiar di Samudra Atlantik, dengan tiga penumpang meninggal. Virus langka ini dikenal memiliki tingkat keparahan tinggi, bahkan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat jika tidak ditangani cepat.
Bagaimana Hantavirus Menyerang Tubuh Manusia?
Secara medis, hantavirus ditularkan melalui paparan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat. Dalam praktiknya, seseorang dapat terinfeksi saat menghirup partikel virus dari lingkungan yang terkontaminasi.
Menurut Dr. Gaby Frank dari Johns Hopkins Special Pathogens Center, penularan umumnya terjadi dari hewan ke manusia. Namun, pada jenis tertentu di Amerika Selatan, penularan antarmanusia dapat terjadi dalam kontak erat.
Kasus yang terjadi di kapal pesiar masih dalam penyelidikan terkait sumber paparan. Namun, pola umum menunjukkan hubungan dengan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.
Gejala Hantavirus yang Sering Disalahartikan
Pada tahap awal, hantavirus sering menyerupai infeksi ringan seperti flu. Penderita dapat mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan.
“Hal ini sangat mudah disalahartikan sebagai infeksi virus lain,” kata Dr. Charles Van Hook.
Gejala biasanya muncul dalam rentang satu hingga enam minggu setelah paparan. Pada fase ini, banyak kasus tidak terdeteksi karena kemiripannya dengan penyakit umum.
Perkembangan Cepat ke Kondisi Kritis
Yang menjadi titik krusial adalah perubahan kondisi yang sangat cepat. Dalam beberapa hari, infeksi dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome (HPS).
Pada fase ini, pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga cairan masuk ke paru-paru. Akibatnya, pasien mengalami sesak napas berat.
“Paru-paru menjadi seperti spons yang penuh cairan,” ujar Dr. Martha Blum.
Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan tekanan darah dan gangguan fungsi jantung. Dalam kasus berat, pasien memerlukan alat bantu pernapasan hingga mesin jantung-paru.
Tingkat Kematian dan Dampak Jangka Panjang
Data menunjukkan sekitar 35 persen kasus hantavirus di Amerika Serikat berujung fatal. Sejak 1993, tercatat 890 kasus dengan mayoritas terjadi di wilayah barat Sungai Mississippi.
Dalam konteks ini, tingkat fatalitas dipengaruhi oleh jenis virus dan kecepatan penanganan. Tanpa perawatan intensif, pasien pada fase kritis dapat meninggal dalam 24 hingga 48 jam.
Di sisi lain, pasien yang selamat pun tidak selalu pulih sepenuhnya. Beberapa mengalami kelelahan berkepanjangan dan gangguan pernapasan.
“Kadang pemulihan tidak pernah benar-benar kembali seperti semula,” kata Dr. Van Hook.
Pengalaman Pasien Hantavirus

Kasus nyata dialami Jordan Herbst yang terinfeksi saat berusia 14 tahun. Awalnya ia mengira hanya terkena flu, sebelum akhirnya mengalami gagal napas.
“Rasanya seperti tenggelam, mencoba bernapas tapi tidak bisa,” ujarnya.
Ia harus menjalani perawatan intensif dan koma medis selama beberapa hari. Proses pemulihan berlangsung lama, bahkan memengaruhi aktivitasnya selama lebih dari satu tahun.
Kasus lain dialami Kristine Musson pada 2023. Ia nyaris tidak selamat dan membutuhkan alat bantu hidup. Dokter menyebut keterlambatan satu jam saja bisa berakibat fatal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan hanya langka, tetapi juga memiliki dampak serius pada kesehatan individu.
