Home » News » Internasional » Greenland Jadi Rebutan Amerika, Picu Tegangan dengan Eropa
GreenlandGreenland - dok Two Can Travel

Beritanda.com – Greenland kembali menjadi sorotan Amerika Serikat setelah Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya agar Washington mengambil alih wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark tersebut. Isu ini bukan hanya memicu reaksi keras Eropa, tetapi juga membuka babak baru ketegangan geopolitik di kawasan Arktik. Pertanyaannya, mengapa pulau terpencil ini begitu penting bagi Amerika?

Greenland, Pulau Arktik dengan Status Unik

Greenland telah dihuni selama sekitar 5.000 tahun oleh masyarakat Arktik dan Eropa. Meski secara geografis berada di Amerika Utara, secara politik Greenland menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dengan otonomi luas sejak 2009.

Pulau terbesar di dunia ini memiliki luas sekitar 2,16 juta km², dua pertiganya berada di Lingkar Arktik, dengan populasi hanya sekitar 57 ribu jiwa yang mayoritas berasal dari suku Inuit.

Alasan Amerika Mengincar Greenland

Letak Greenland sangat strategis karena berada di celah GIUK, jalur maritim yang menghubungkan Arktik dengan Samudra Atlantik. Posisi ini membuatnya krusial bagi pengawasan pergerakan kapal Rusia dan Tiongkok.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Selain itu, Greenland menyimpan cadangan minyak, gas, dan mineral langka yang dibutuhkan industri global, mulai dari mobil listrik hingga sistem persenjataan modern.

Mantan penasihat keamanan nasional AS, Mike Waltz, menegaskan fokus Washington ada pada sumber daya ini dengan menyebut perhatian Trump pada Greenland adalah “tentang mineral penting” dan “sumber daya alam.”

Trump sendiri pernah berkata kepada wartawan di atas Air Force One, “Kita membutuhkan Greenland…lokasi itu sangat strategis saat ini. Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Tiongkok di mana-mana. Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya.

Amerika, NATO, dan Reaksi Eropa

Wacana pengambilalihan Greenland memicu kegelisahan di Eropa karena dapat memecah belah NATO. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa, “Jika AS memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan dengan demikian keamanan yang telah terjamin sejak akhir Perang Dunia II.

Di Greenland sendiri, isu ini juga ditolak. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyebut retorika AS sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima.”

 Ia menambahkan, “Ketika Presiden Amerika Serikat berbicara tentang ‘membutuhkan Greenland’ dan mengaitkan kita dengan Venezuela dan intervensi militer, itu bukan hanya salah. Itu tidak menghormati.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News