Beritanda.com – Amerika Israel serang Iran dalam operasi militer gabungan pada Sabtu yang diberi nama “OPERASI EPIC FURY” oleh Pentagon, memicu eskalasi tajam di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut serangan itu sebagai langkah besar untuk menghentikan ancaman nuklir Iran dan melindungi rakyat Amerika. Ketegangan meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal balasan ke arah Israel.
Operasi EPIC FURY dan Target Strategis Iran
Pentagon mengonfirmasi Amerika Israel serang Iran melalui operasi udara dan laut yang disebut berskala besar. Dua pejabat Amerika mengatakan kepada Reuters bahwa kampanye militer tersebut diperkirakan berlangsung beberapa hari.
Cakupan target belum dijelaskan secara detail. Namun Washington menegaskan operasi ini bertujuan menghancurkan kemampuan strategis Iran, terutama yang berkaitan dengan program nuklir dan rudal balistik.
Trump menyatakan Amerika telah membangun kehadiran militer besar di kawasan untuk menekan Teheran dalam pembicaraan nuklir. Ia menegaskan operasi tersebut bersifat “besar-besaran dan berkelanjutan.”
“Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran,” kata Trump.
Program rudal balistik Iran menjadi sorotan utama. Washington menilai rudal jarak jauh Iran berpotensi mengancam wilayah Amerika Serikat dan sekutunya, sementara Israel melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Serangan ini juga merupakan lanjutan dari perang udara 12 hari pada Juni antara Israel dan Iran. Ketika Amerika Israel serang Iran kali ini, pesan strategis yang ingin ditegaskan adalah pencegahan permanen terhadap kemampuan nuklir Teheran.
Respons Iran dan Risiko Perang Lebih Luas
Militer Israel menyatakan Iran telah meluncurkan rudal ke arah wilayahnya sebagai respons awal. Situasi ini memperlihatkan bahwa keputusan Amerika Israel serang Iran langsung memicu reaksi militer.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya sedang mempersiapkan pembalasan yang dahsyat. Ancaman tersebut memperbesar risiko konflik regional yang melibatkan lebih banyak aktor di Timur Tengah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan operasi gabungan ini akan menciptakan kondisi baru bagi kawasan. Ia menilai langkah militer tersebut penting untuk menghilangkan ancaman terhadap Negara Israel.
“Waktunya telah tiba bagi semua lapisan masyarakat di Iran… untuk melepaskan belenggu tirani dari (rezim) dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai,” kata Netanyahu.
Di tengah situasi genting, sumber menyebut pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah dipindahkan ke lokasi aman. Langkah ini menunjukkan tingkat ancaman keamanan yang tinggi setelah Amerika Israel serang Iran.
Serangan terjadi saat Ramadan dan menjelang perayaan Yahudi Purim. Momentum tersebut menambah dimensi sensitif dalam konflik yang telah lama membara.
Dengan diplomasi yang kian meredup dan operasi militer yang terus berjalan, kawasan Timur Tengah kembali menghadapi ketidakpastian. Dunia kini memantau apakah Amerika Israel serang Iran akan berhenti sebagai operasi terbatas atau berubah menjadi perang berkepanjangan.
