Beritanda.com – Video yang diunggah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memicu gelombang kecaman internasional setelah memperlihatkan puluhan aktivis Global Sumud Flotilla berlutut dengan tangan terikat di pelabuhan Ashdod, Israel, Rabu (20/5/2026). Di antara ratusan aktivis yang ditahan usai pencegatan armada bantuan menuju Gaza itu, terdapat 9 warga negara Indonesia (WNI) yang juga ditahan pihak keamanan Israel.
Rekaman tersebut memperlihatkan para aktivis duduk berlutut dengan tangan diikat kabel ties, sebagian menundukkan kepala hingga menyentuh dek kapal, sementara lagu kebangsaan Israel diputar di latar belakang. Ben-Gvir mengunggah video itu ke platform X dengan tulisan singkat, “Selamat datang di Israel.”
Unggahan itu justru memicu kemarahan global dan memperkuat tuduhan bahwa para relawan kemanusiaan diperlakukan secara tidak manusiawi setelah dicegat di perairan internasional.
Sebanyak lebih dari 50 kapal Global Sumud Flotilla bertolak dari Turki pada 14 Mei 2026 membawa sekitar 1.000 aktivis dari hampir 50 negara. Misi sipil tersebut bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang masih menghadapi pembatasan ketat akses logistik meski gencatan senjata Israel-Hamas berlaku sejak Oktober 2025.
Pencegatan di Laut Internasional Jadi Sorotan
Armada dicegat militer Israel pada 18 Mei 2026 di wilayah perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 460 kilometer dari pantai Gaza.
Penyelenggara flotilla menegaskan misi mereka dilindungi hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan Konvensi Jenewa IV, karena kapal sipil pembawa bantuan kemanusiaan tidak boleh diserang atau disita di laut lepas.
Pemerintah Israel memiliki pandangan berbeda.
Tel Aviv menyatakan blokade laut terhadap Gaza sah secara hukum demi mencegah masuknya senjata ke Hamas, dan menyebut intersepsi kapal dilakukan sebagai bagian dari kebijakan keamanan nasional.
Namun video yang diunggah Ben-Gvir memicu kontroversi bahkan di dalam negeri Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menegur menterinya itu.
“Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada kapal tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel. Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin,” tegas Benjamin Netanyahu.
Pernyataan itu menjadi teguran langka terhadap Ben-Gvir, salah satu tokoh paling keras dalam kabinet koalisi Israel.
Dugaan Kekerasan Selama Penahanan
Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, melaporkan sejumlah aktivis mengalami kekerasan fisik dan psikologis selama masa penahanan.
Sedikitnya tiga orang dilaporkan dirawat di rumah sakit dengan luka serius. Beberapa kesaksian menyebut adanya penggunaan sengatan listrik berulang, pemaksaan posisi tubuh yang menyakitkan, hingga dugaan pelepasan jilbab secara paksa terhadap aktivis perempuan.
Hingga laporan ini disusun, pemerintah Israel belum memberikan bantahan resmi terhadap tuduhan spesifik tersebut.
Jika terbukti, insiden ini dapat memperkuat tekanan hukum internasional terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) maupun Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Indonesia Kutuk Penahanan, 9 WNI Dipantau Ketat
Kementerian Luar Negeri RI mengutuk keras perlakuan terhadap relawan flotilla dan menegaskan tindakan militer Israel melanggar prinsip kemanusiaan internasional.
“Indonesia mengutuk tindakan yang tidak manusiawi terhadap relawan Global Sumud Flotilla 2.0 yang dilakukan oleh Israel. Tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tegas Kementerian Luar Negeri RI.
Sembilan WNI yang ikut dalam misi tersebut terdiri dari dua jurnalis Republika serta tujuh relawan sipil.
Pemerintah Indonesia saat ini berkoordinasi intensif dengan Turki, Yordania, dan Mesir untuk memastikan perlindungan konsuler mereka.
Kecaman juga datang dari sedikitnya 12 negara.
Prancis, Italia, Belanda, Belgia, Spanyol, hingga Australia memanggil duta besar Israel untuk meminta penjelasan resmi. Presiden Kolombia Gustavo Petro mengambil langkah paling keras dengan memutus perjanjian dagang dan mengusir diplomat Israel dari Bogota.
Video Ben-Gvir Bisa Jadi Bumerang Diplomatik
Yang membuat insiden ini berbeda dari kasus serupa sebelumnya adalah sumber videonya.
Rekaman itu bukan bocoran investigasi atau dokumentasi diam-diam. Video tersebut diunggah langsung oleh Ben-Gvir sendiri.
Langkah ini dipandang banyak pengamat sebagai strategi komunikasi politik domestik untuk memperkuat citra kerasnya di basis pemilih sayap kanan Israel.
Namun di tingkat global, efeknya justru berbalik.
Video itu kini menjadi bukti visual yang melemahkan klaim Israel soal perlakuan manusiawi terhadap para aktivis.
Bagi dunia internasional, gambar puluhan relawan kemanusiaan berlutut terikat di pelabuhan terbuka menjadi simbol baru memanasnya krisis moral dan diplomatik seputar blokade Gaza.
