Home » Ekbis » 50 Ribu Karyawan Samsung Siap Mogok, Industri Chip Dunia Terancam
Kantor Pusat SamsungKantor Pusat Samsung

Beritanda.com – Sekitar 50.000 karyawan divisi semikonduktor Samsung Electronics di Korea Selatan bersiap melancarkan aksi mogok kerja massal selama 18 hari mulai 21 Mei hingga 7 Juni 2026. Jika benar terjadi, aksi ini berpotensi menjadi salah satu mogok terbesar dalam sejarah industri teknologi modern dan mengancam pasokan chip memori global di tengah ledakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI).

Ancaman ini muncul setelah negosiasi maraton antara manajemen dan serikat pekerja kembali menemui jalan buntu. Perselisihan utama berkutat pada pembagian keuntungan besar dari booming industri AI yang selama dua tahun terakhir mendongkrak laba bisnis memori chip Samsung.

“Kami bersedia berdiskusi setelah 7 Juni. Kami berniat menggunakan hak yang dijamin konstitusi,” kata Ketua Serikat Pekerja Samsung Electronics, Choi Seung-ho, dikutip dari Yonhap.

Konflik ini menjadi alarm serius bagi pasar global. Samsung saat ini menguasai sekitar 40 hingga 50 persen pasar memori DRAM dan NAND dunia, komponen vital untuk pusat data AI, smartphone, laptop, hingga server komputasi awan.

Konflik Bonus AI dan Efek SK Hynix

Kemarahan pekerja dipicu kebijakan rival utama Samsung, SK Hynix, yang sejak September 2025 menghapus batas maksimal bonus tahunan.

Akibatnya, bonus insinyur SK Hynix pada 2026 diproyeksikan menembus 700 juta won per orang, lebih dari dua kali lipat tawaran Samsung.

Ketimpangan itu memicu eksodus talenta.

Dalam empat bulan terakhir saja, sekitar 200 insinyur Samsung disebut telah pindah ke SK Hynix.

Serikat pekerja menuntut 15 persen laba operasional dialokasikan untuk bonus kinerja, penghapusan bonus cap, transparansi perhitungan insentif, serta kenaikan gaji pokok 7 persen.

Sebaliknya, Samsung hanya menawarkan alokasi 10 persen laba operasional ditambah kompensasi satu kali bayar, sambil tetap mempertahankan batas bonus maksimal.

Ketegangan semakin terasa karena bonus divisi chip memori jauh lebih besar dibanding pekerja foundry dan chip logika, memicu kecemburuan internal di tubuh perusahaan.

Efek Domino Bisa Menjalar ke Dunia

Jika mogok benar berlangsung penuh selama 18 hari, dampaknya diperkirakan tidak berhenti di Korea Selatan.

Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok memperkirakan penghentian operasional satu hari saja dapat menimbulkan kerugian hingga 1 triliun won atau sekitar Rp 11,7 triliun.

Jika berlangsung penuh, total kerugian bisa menyentuh puluhan triliun won.

Analis memperingatkan dunia dapat kehilangan hingga 4 persen pasokan DRAM global.

Yang paling rentan terdampak adalah pengiriman High Bandwidth Memory (HBM), chip premium yang sangat dibutuhkan Nvidia dan AMD untuk melatih model AI generatif.

Setiap keterlambatan pengiriman berpotensi mendorong pelanggan besar Samsung beralih ke SK Hynix yang kini menguasai sekitar 60 persen pasar HBM dunia.

Efek lanjutan bisa dirasakan konsumen.

Gartner memproyeksikan harga smartphone global dapat naik hingga 13 persen pada akhir 2026 jika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.

Indonesia pun berpotensi terkena imbas melalui kenaikan harga perangkat elektronik impor dan gangguan produksi industri perakitan domestik.

Situasi ini cukup serius hingga Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung ikut angkat bicara.

“Tenaga kerja harus dihormati sama besarnya dengan bisnis, dan hak manajemen perusahaan juga harus dihormati sama besarnya dengan hak-hak pekerja,” tulisnya melalui akun X resmi.

Sementara Chairman Samsung Lee Jae-yong bahkan membungkukkan badan di hadapan wartawan di Bandara Gimpo dalam permintaan maaf publik yang jarang dilakukan pemimpin chaebol Korea.

Di balik konflik bonus ini, tersimpan persoalan lebih dalam.

Samsung selama puluhan tahun dikenal anti-serikat pekerja. Baru pada 2020 perusahaan resmi mencabut kebijakan tersebut setelah serangkaian vonis hukum.

Kini, sejarah panjang itu seperti kembali menagih harga.

Jika negosiasi terakhir gagal sebelum 21 Mei, bukan hanya Samsung yang menghadapi krisis, tetapi seluruh ekosistem teknologi global.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News