Home » Ragam » Rahasia Mahkota Binokasih yang Kini Keliling Jawa Barat
Mahkota BinokasihMahkota Binokasih yang merupakan simbol Budaya Sunda

Beritanda.com – Ribuan warga memadati sejumlah ruas jalan di Jawa Barat sepanjang 2 hingga 18 Mei 2026 untuk menyaksikan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Namun perhatian terbesar bukan hanya tertuju pada kemeriahan arak-arakan, melainkan pada satu simbol bersejarah yang jarang tampil di ruang publik: Mahkota Binokasih.

Artefak yang selama ini tersimpan di Museum Geusan Ulun, Sumedang, itu kini diarak melintasi berbagai kota menggunakan kereta kencana atas keputusan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Langkah tersebut menandai perubahan besar dalam cara pemerintah daerah membingkai identitas budaya Sunda di ruang publik modern.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan kendaraan modern seperti Jeep, prosesi tahun ini menempatkan Mahkota Binokasih sebagai pusat narasi sejarah.

“Mulai tahun ini Mahkota Binokasih diarak, bukan lagi pakai mobil Jeep, tetapi dengan acara kebudayaan yang berasal dari nilai leluhur kita, dibawa keliling Jabar,” ujar Dedi Mulyadi.

Keputusan itu bukan sekadar perubahan artistik. Ia mengandung pesan politik-kultural yang kuat: Jawa Barat sedang menata ulang cara membaca masa depannya dengan kembali merujuk pada akar sejarah Sunda.

Mahkota yang Menyimpan Jejak Kerajaan Sunda

Mahkota Binokasih diyakini merupakan simbol kemaharajaan Sunda yang diwariskan dari Kerajaan Padjadjaran kepada Sumedang Larang pada masa transisi kekuasaan.

Dalam sejarah Sunda, artefak ini bukan sekadar perhiasan kerajaan, melainkan representasi legitimasi moral kepemimpinan.

Radya Anom Karaton Sumedang Larang Luky Djohari Soemawilaya menjelaskan mahkota tersebut merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu: silih asah, silih asih, dan silih asuh.

“Kasih sayang harus dijadikan sumber tindakan karena dari kasih sayang melahirkan nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, adil dan bijaksana,” ujarnya.

Nilai itu relevan dalam konteks hari ini, ketika kepemimpinan publik kerap dinilai terlalu administratif dan minim sentuhan kultural.

Kirab ini menjadi pengingat bahwa masyarakat Sunda memiliki warisan filosofi pemerintahan yang menempatkan welas asih sebagai fondasi tata kelola.

Napak Tilas yang Bukan Sekadar Seremoni

Milangkala Tatar Sunda 2026 mengusung tema “Nyuhun Buhun, Nata Nagara.

Maknanya sederhana namun dalam: menghormati leluhur sebagai jalan menata masa depan.

Kirab menempuh delapan titik utama mulai Sumedang, Kawali, Tasikmalaya, Garut, Bogor, Karawang, Cirebon hingga puncaknya di Gedung Sate, Bandung.

KDM Menghadiri Kirab Budaya Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut menghadiri Kirab Budaya Jawa Barat 2026

Sebanyak 580 pelaku seni, 270 tokoh adat, dan 13 kampung adat terlibat dalam prosesi ini.

Secara kasat mata, ini adalah parade budaya.

Namun secara strategis, ia merupakan cara pemerintah menanamkan kembali memori kolektif Sunda kepada generasi muda yang semakin akrab dengan budaya digital global ketimbang akar lokalnya sendiri.

Di sinilah letak signifikansi terbesar kirab tersebut.

Ketika identitas budaya di banyak daerah mulai terpinggirkan oleh urbanisasi cepat, Jawa Barat justru memilih menjadikannya instrumen pembangunan.

Pemerintah bahkan menyiapkan anggaran Rp 9 miliar untuk penataan Museum Pajajaran serta pengembangan koridor budaya “Palataran Binokasih.”

Ini menunjukkan budaya tak lagi diposisikan sebagai ornamen acara seremonial, melainkan sebagai fondasi pembangunan kota, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.

Bukti awalnya mulai terlihat.

Di sejumlah titik kirab, okupansi hotel meningkat, UMKM lokal kebanjiran pembeli, dan ruang publik yang dilalui mulai masuk agenda revitalisasi.

“Potensi ekonomi pasti tinggi. Setiap kegiatan seperti ini juga melahirkan UMKM baru,” kata Dedi Mulyadi saat pembukaan di Sumedang.

Bila konsisten dijalankan, Milangkala Tatar Sunda berpotensi menjadi model baru festival budaya daerah di Indonesia: bukan nostalgia masa lalu, melainkan investasi identitas untuk masa depan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News