Home » News » Daerah » Dari 260 ke 4.600 Personel, Bandung Gaspol Atasi Krisis Sampah
Program Sapu-sapu Kota BandungSapu-Sapu Bandung libatkan 4.600 ASN, strategi baru cara kota mengelola sampah - dok Instagram

Bandung, Beritanda.com – Kota Bandung mengerahkan 4.600 ASN turun ke jalan sejak 19 April 2026 lewat program Sapu-Sapu Bandung, langkah masif yang lahir dari keterbatasan hanya 260 petugas kebersihan sebelumnya.

Lonjakan Personel, Jawaban atas Ketimpangan Lapangan

Selama ini, beban kebersihan di Bandung bertumpu pada sumber daya yang relatif kecil. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menunjukkan, hanya sekitar 260 personel yang menangani 17 ruas jalan utama, terutama saat lonjakan sampah usai akhir pekan.

Di titik ini, pemerintah kota memilih pendekatan berbeda. Bukan menunggu penambahan anggaran atau rekrutmen baru, melainkan mengerahkan aparatur yang sudah ada. Hasilnya, jumlah personel melonjak drastis menjadi 4.600 orang yang tersebar di 30 kecamatan dan 151 kelurahan.

Langkah ini tidak hanya soal angka. Ini adalah bentuk mobilisasi besar-besaran yang jarang terjadi, di mana camat dan lurah ikut turun langsung ke lapangan bersama petugas kebersihan tingkat kelurahan.

Strategi “Mass Mobilization” yang Tidak Biasa

Alih-alih menambah armada atau memperluas kontrak tenaga kebersihan, Pemkot Bandung justru mengoptimalkan struktur birokrasi yang sudah ada. Setiap Minggu, sejak pukul 04.00 hingga 07.00 WIB, ribuan ASN bergerak serentak membersihkan jalan protokol hingga kawasan wisata.

Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menegaskan pendekatan ini menjadi solusi cepat untuk menutup celah keterbatasan tenaga di lapangan.
“Program ini bukan hanya soal membersihkan kota, tapi memastikan seluruh aparatur ikut merasakan langsung kondisi lapangan,” ujar Kepala DLH, Darto.

Dengan skema ini, Bandung tidak lagi sepenuhnya bergantung pada petugas “Gober” yang jumlahnya terbatas. Sebaliknya, beban kerja didistribusikan ke seluruh lini pemerintahan kewilayahan.

Dampak Langsung dan Tantangan Keberlanjutan

Efek instan dari program ini terlihat pada kesiapan kota sebelum jam sibuk. Pembersihan dilakukan saat subuh, menciptakan kondisi jalan yang lebih rapi sebelum aktivitas warga dan wisatawan meningkat.

Kawasan seperti Dago, Braga, dan sekitar alun-alun yang kerap dipadati pengunjung akhir pekan menjadi prioritas. Pendekatan ini juga mengubah pola kerja dari reaktif menjadi antisipatif.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan soal keberlanjutan. Mobilisasi besar ASN membutuhkan konsistensi tinggi, terutama jika dilakukan rutin setiap minggu. Di sisi lain, program ini membuka kemungkinan baru dalam pengelolaan kota tanpa harus selalu bergantung pada tambahan anggaran.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan bahwa tujuan utamanya lebih dari sekadar kebersihan.
“Kami ingin membangun kebiasaan baru di lingkungan pemerintahan, di mana semua turun langsung, bukan hanya bekerja di belakang meja,” kata Wali Kota, Muhammad Farhan.

Jika konsisten, model ini bisa menjadi contoh bagaimana kota mengatasi keterbatasan sumber daya dengan pendekatan kolaboratif. Bukan sekadar solusi sementara, melainkan cara baru membaca persoalan kota dari dalam sistem itu sendiri.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News