Beritanda.com – Kematian mendadak Ali Larijani di tengah perang bikin Iran seperti kehilangan “otak cadangan”. Dalam 48 jam terakhir, dua figur kunci tumbang, memicu pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang kini memegang kendali?
Serangan udara yang terjadi pada 16–17 Maret 2026 di Tehran menewaskan Ali Larijani, hanya berselang dua minggu setelah Ayatollah Khamenei gugur dalam serangan awal AS–Israel. Dalam situasi perang aktif, kekosongan ini bukan sekadar simbol—ini soal kendali negara.
Kematian Ali Larijani Picu Krisis Kepemimpinan Iran
Selama ini, Ali Larijani bukan sekadar pejabat biasa. Ia ibarat “mesin penggerak” di balik layar kekuasaan Iran. Saat Khamenei tewas, Larijani otomatis menjadi pemimpin de facto—meski tanpa gelar resmi.
Namun kini, sosok itu juga hilang.
Masalahnya? Iran tidak hanya kehilangan satu pemimpin, tapi dua sekaligus dalam waktu sangat singkat. Ini menciptakan apa yang disebut analis sebagai krisis kepemimpinan ganda.
Di satu sisi, Mojtaba Khamenei telah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Tapi di sisi lain, ia dinilai belum cukup matang secara politik dan belum memiliki pengaruh kuat di semua faksi.
Di sinilah peran Larijani sebelumnya terasa krusial. Ia bukan ulama, tapi justru menjadi “jembatan” antar kelompok elite yang sering bersaing diam-diam.
Tanpa sosok seperti dia? Koordinasi bisa goyah.
Kenapa Ali Larijani Sangat Vital?
Untuk memahami dampaknya, lihat posisi Larijani selama ini:
- Penghubung antar faksi elite Iran
Ia dikenal mampu “berbicara dengan semua pihak”—dari militer hingga politisi sipil. - Otak strategi keamanan nasional
Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, ia mengatur banyak keputusan krusial di masa perang. - Wajah diplomasi Iran
Bahkan lebih aktif dibanding Menteri Luar Negeri dalam negosiasi global. - Figur pragmatis di tengah garis keras
Saat banyak pihak memilih konfrontasi, Larijani sering membuka ruang kompromi.
Singkatnya, dia bukan hanya penting—dia sulit digantikan.
Efek Domino: Dari Politik ke Keamanan
Kematian Ali Larijani tidak berhenti di ranah politik. Dampaknya langsung menjalar ke berbagai sektor:
1. Politik dalam negeri makin rapuh
Tanpa figur penyeimbang, konflik internal antar elite bisa muncul ke permukaan. Bayangkan tim tanpa kapten—semua pemain punya ego.
2. Komando militer berisiko terfragmentasi
Dalam kondisi perang, koordinasi adalah segalanya. Kehilangan satu pusat kendali bisa memperlambat respons militer.
3. Jalur diplomasi makin tertutup
Sebelum perang, Larijani terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan AS. Kini? Jembatan itu nyaris runtuh.
4. Risiko eskalasi konflik meningkat
Tanpa sosok pragmatis, keputusan bisa lebih emosional. Dan dalam perang, itu kombinasi berbahaya.
Apakah Iran Akan Stabil atau Justru Makin Goyah?
Pertanyaan ini yang sekarang menghantui banyak pihak.
Seorang analis bahkan menyebut, “Selalu ada pengganti, tapi tidak semua bisa menggantikan peran”. Dan itulah masalah utamanya.
Iran memang masih punya struktur kekuasaan. Tapi tanpa Ali Larijani, sistem itu kehilangan “pelumas” yang membuat semuanya berjalan mulus.
Apalagi di tengah tekanan militer dan internasional.
Jadi, apakah Iran akan cepat menemukan keseimbangan baru? Atau justru masuk fase ketidakpastian yang lebih dalam?
Jawabannya mungkin tidak akan lama lagi terlihat.
Yang jelas, kematian Ali Larijani bukan sekadar kehilangan tokoh—ini bisa jadi titik balik arah perang.
