Home » Entertainment » Seleb » Viral! Abu Janda: Aktivis Medsos, Komisaris BUMN & Kontroversi
Abu JandaPermadi Arya atau lebih dikenal sebagai Abu Janda - dok Ist

Beritanda.com – Nama Abu Janda kembali memantik perdebatan publik. Sosok yang dikenal sebagai aktivis media sosial ini bukan hanya pernah duduk sebagai komisaris BUMN, tetapi juga memiliki jejak panjang kontroversi yang terus memicu pro-kontra.

Perbincangan tentang Abu Janda kembali memanas setelah insiden debat panas di televisi pada Maret 2026. Namun, bagi sebagian publik, kontroversi bukanlah hal baru dalam perjalanan kariernya.

Abu Janda: Dari Aktivis Medsos hingga Komisaris BUMN

Nama Abu Janda sebenarnya adalah nama populer dari Permadi Arya, atau Heddy Setya Permadi. Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973.

Sebelum dikenal luas di media sosial, perjalanan kariernya cukup beragam. Ia sempat bekerja di sejumlah sektor profesional, mulai dari dunia keuangan hingga industri tambang.

Beberapa titik penting perjalanan kariernya antara lain:

  • 1997 – Menempuh pendidikan Diploma Ilmu Komputer di Informatic IT School, Singapura.
  • 1999 – Lulus dari University of Wolverhampton, Inggris dengan gelar Business & Finance.
  • 1999–2015 – Bekerja di perusahaan sekuritas, bank swasta, hingga tambang batu bara.
  • 2018 – Mulai dikenal sebagai influencer politik dan relawan pendukung Joko Widodo.

Perjalanan tersebut kemudian mengantarkan Abu Janda ke panggung politik digital. Ia dikenal aktif mengkritik isu radikalisme, intoleransi, serta konflik sosial yang berkaitan dengan agama.

Puncak sorotan publik terjadi pada April 2025, ketika namanya disebut menduduki posisi komisaris di PT Jasamarga Toll Road Operation (JMTO), anak usaha PT Jasa Marga.

Saat dikonfirmasi media, ia hanya memberi jawaban singkat. “Insya Allah. Doakan semoga amanah,” — ujar Permadi Arya.

Pernyataan tersebut justru memicu diskusi baru di ruang publik. Banyak pihak mempertanyakan latar belakangnya yang lebih dikenal sebagai aktivis media sosial dibanding profesional di sektor infrastruktur.

Deretan Kontroversi yang Membuat Namanya Sering Disorot

Bagi pengamat politik digital, Abu Janda bukan figur yang asing dengan polemik.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia tercatat beberapa kali dilaporkan ke kepolisian terkait unggahan di media sosial.

Berikut beberapa kontroversi yang paling sering dibicarakan:

  1. 2018 – Polemik Bendera Tauhid
    Ia dilaporkan setelah menyebut bendera bertuliskan kalimat tauhid sebagai simbol kelompok teroris.
  2. 2019 – Pernyataan tentang Terorisme dan Islam
    Ucapannya yang mengaitkan agama dengan aksi terorisme memicu laporan dari sejumlah organisasi advokat.
  3. 2021 – Cuitan “Islam Agama Arogan
    Pernyataan ini kembali memancing kritik luas di media sosial dan dilaporkan ke Bareskrim.
  4. 2021 – Dugaan Ujaran Rasis terhadap Natalius Pigai
    Kasus ini sempat menjadi sorotan nasional karena menyangkut isu rasial.
  5. 2025 – Pemeriksaan Bareskrim
    Ia kembali diperiksa terkait dugaan ujaran kebencian yang berasal dari pernyataan lama di media sosial.

Kontroversi tersebut membuat nama Abu Janda hampir selalu muncul setiap kali diskusi tentang etika komunikasi di ruang digital dibahas.

Insiden Terbaru yang Kembali Memicu Perdebatan

Perdebatan terbaru terjadi dalam program diskusi televisi Rakyat Bersuara pada Maret 2026.

Dalam forum tersebut, Abu Janda terlibat adu argumen dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari dan akademisi Prof. Ikrar Nusa Bhakti terkait isu geopolitik Timur Tengah.

Abu Janda ngamuk kepada Feri Amsari
Abu Janda ngamuk kepada Feri Amsari di salah satu acara TalkShow – dok Ist

Situasi memanas ketika ia memotong pembicaraan narasumber dan mengeluarkan kata-kata yang dianggap kasar.

Ketegangan itu membuat diskusi berubah seperti arena debat tanpa rem.

Akhirnya, suasana yang semakin tidak kondusif membuat pembawa acara mengambil tindakan untuk menghentikan konflik di studio.

Momen tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu ribuan komentar warganet.

Tokoh Kontroversial atau Pembela Toleransi?

Di sinilah posisi Abu Janda menjadi menarik.

Bagi para pendukungnya, ia dianggap sebagai sosok yang berani melawan radikalisme dan intoleransi di ruang digital.

Namun bagi para pengkritiknya, cara penyampaian pendapatnya kerap dianggap terlalu provokatif dan melampaui batas etika diskusi publik.

Perdebatan tentang sosok Abu Janda pun seperti dua sisi mata uang.

Satu pihak melihatnya sebagai aktivis yang vokal.
Pihak lain menilainya sebagai figur kontroversial yang sering memancing polemik.

Yang jelas, satu hal sulit dibantah: nama Abu Janda hampir selalu berhasil menarik perhatian publik setiap kali muncul di ruang diskusi nasional.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News