Beritanda.com – Dunia politik Timur Tengah mendadak berubah setelah Mojtaba Khamenei resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Keputusan ini muncul hanya beberapa hari setelah serangan militer besar AS–Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Pemilihan Mojtaba Khamenei diumumkan pada 8 Maret 2026 oleh Majelis Ahli Iran. Dalam waktu singkat, ulama berusia 56 tahun itu memperoleh dukungan mayoritas untuk memimpin Republik Islam di tengah situasi perang yang memanas.
Mojtaba Khamenei Naik Puncak Kekuasaan Setelah Serangan Besar
Perjalanan Mojtaba Khamenei menuju kursi pemimpin tertinggi Iran terjadi dalam situasi dramatis. Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap berbagai target strategis di Iran.
Serangan yang disebut Operasi “Roaring Lion” oleh Israel dan Operation Epic Fury oleh Pentagon itu menyasar sejumlah kota penting seperti:
- Teheran
- Isfahan
- Qom
- Karaj
- Kermanshah
Salah satu targetnya adalah kompleks kediaman Ayatollah Ali Khamenei, yang mengalami kerusakan berat akibat serangan udara tersebut.
Tragedi ini kemudian membuka jalan bagi Mojtaba Khamenei untuk naik ke pucuk kepemimpinan negara.
Keluarga Mojtaba Ikut Jadi Korban Serangan
Serangan 28 Februari menjadi salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah politik Iran modern.
Ayah Mojtaba, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Tidak hanya itu, beberapa anggota keluarganya juga menjadi korban.
Beberapa korban yang dilaporkan gugur antara lain:
- Ibu Mojtaba Khamenei
- Saudara perempuan
- Ipar
- Beberapa keponakan
- Istri Mojtaba, Zahra Haddad-Adel, juga dilaporkan meninggal dalam serangan yang sama.
Menariknya, Mojtaba Khamenei tidak berada di kompleks tersebut saat serangan terjadi, sehingga ia selamat dari tragedi tersebut.
Majelis Ahli Pilih Mojtaba dengan Dukungan Besar
Beberapa hari setelah serangan tersebut, Majelis Ahli Iran yang beranggotakan 88 ulama menggelar pemungutan suara untuk menentukan pemimpin tertinggi baru.
Hasilnya cukup mencolok.
Mojtaba Khamenei memperoleh lebih dari 85 persen suara, menjadikannya pemimpin ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran.
“Dengan suara yang tegas, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Ketiga sistem suci Republik Islam Iran.” — pernyataan resmi Majelis Ahli Iran.
Keputusan tersebut segera diikuti oleh pernyataan dukungan dari berbagai lembaga penting negara.
IRGC dan Militer Langsung Menyatakan Kesetiaan
Tak lama setelah pengumuman resmi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta pimpinan militer Iran menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru.
“Korps Garda Revolusi Islam siap untuk ketaatan penuh dan pengorbanan diri dalam melaksanakan perintah-perintah ilahi dari Wali Faqih zaman ini.” — pernyataan IRGC.
Dukungan dari militer menjadi faktor penting bagi stabilitas kekuasaan Mojtaba Khamenei, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Israel dan ketegangan dengan Amerika Serikat.
Reaksi Keras dari AS dan Israel
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga memicu reaksi keras dari beberapa negara Barat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengkritik keputusan tersebut.
“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei adalah orang yang tidak berpengaruh.” — ujar Trump dalam wawancara dengan Axios.
Sementara itu, pejabat keamanan Israel mengeluarkan peringatan keras terhadap pemimpin baru Iran.
“Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan ancaman terhadap Israel akan menjadi target.” — ujar pejabat pertahanan Israel.
Terlepas dari kritik internasional, Mojtaba Khamenei kini memegang kekuasaan tertinggi dalam sistem politik Iran.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memiliki kewenangan luas mulai dari mengendalikan militer hingga menentukan arah kebijakan strategis negara.
Perjalanan politik Mojtaba Khamenei yang sebelumnya lebih banyak berada di balik layar kini berubah drastis — dari figur misterius menjadi tokoh paling berkuasa di Republik Islam Iran.
