Medan, Beritanda.com – Perubahan besar mulai terasa di tubuh birokrasi. Sekda Kota Medan akan segera berganti, dan kali ini tidak lagi lewat penunjukan langsung—melainkan sistem yang diklaim lebih adil dan transparan.
Sekda Kota Medan Masuk Skema Reformasi Birokrasi Baru
Langkah ini datang dari Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas yang mulai mengubah cara lama dalam memilih pejabat penting.
Untuk posisi strategis seperti Sekda Kota Medan, Rico Waas menegaskan akan menggunakan sistem manajemen bakat.
“Saya rasa akan memakai manajemen talenta bila masih tingkat eselon II,” — ujar Rico Waas.
Artinya jelas: bukan lagi soal senioritas semata. Tapi kompetensi.
Dari Penunjukan Langsung ke Sistem Terbuka
Sebelumnya, pengisian jabatan Sekda sempat dilakukan lewat penunjukan langsung.
Contohnya saat era Wali Kota terdahulu Bobby Nasution, ketika posisi kosong karena kebutuhan mendesak.
Namun kini, pendekatannya berubah total.
Sistem manajemen bakat yang digunakan memiliki ciri:
- Berbasis merit dan kompetensi
- Seleksi lebih terbuka
- Melibatkan pertimbangan banyak pihak
- Tidak hanya mengandalkan pengalaman masa lalu
Pendeknya, ini seperti “audisi terbuka” untuk posisi penting di pemerintahan.
Sudah Diterapkan, Bukan Sekadar Wacana
Menariknya, ini bukan ide baru yang masih diuji.
Rico Waas sudah menerapkannya dalam beberapa bulan terakhir:
- 13 Maret 2026
4 kepala dinas dilantik lewat sistem ini - 23 Februari 2026
213 pejabat eselon III dan IV dirotasi dan dilantik
Hasilnya? Pemerintah mengklaim lebih tepat sasaran.
“Kami menempatkan orang-orang yang kami anggap mampu dan sanggup memikul tanggung jawab,” — kata Rico Waas.
Kalimat yang terdengar sederhana. Tapi implikasinya besar.
Siapa yang Akan Menggantikan?
Saat ini, posisi Sekda Kota Medan masih dijabat oleh Wiriya Alrahman.
Namun waktunya terbatas.
- Pensiun: Juli 2026
- Proses seleksi: sedang dipersiapkan
- Pelantikan: diproyeksikan setelah masa pensiun
Nama pengganti? Belum ada.
Tapi kriteria sudah mulai terlihat:
- Mampu menjalankan visi-misi kepala daerah
- Kuat dalam koordinasi pusat dan provinsi
- Punya kemampuan monitoring program
- Lulus seleksi manajemen bakat
Jadi, bukan hanya pintar di atas kertas—tapi juga tahan tekanan di lapangan.
Reformasi atau Sekadar Ganti Metode?
Di atas kertas, sistem ini terlihat ideal.
Namun pertanyaan pentingnya:
apakah benar-benar akan menghasilkan birokrat yang lebih baik?
Atau hanya sekadar perubahan metode tanpa perubahan hasil?
Yang jelas, langkah ini menunjukkan satu arah:
Sekda Kota Medan kini bukan lagi sekadar jabatan administratif.
Ia jadi simbol bagaimana birokrasi ingin diubah—lebih terbuka, lebih kompetitif, dan (semoga) lebih profesional.
Kita tinggal menunggu, apakah hasilnya akan sejalan dengan harapan.
