Beritanda.com – Iran akhirnya mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz setelah sempat ditutup akibat konflik. Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya bebas—hanya kapal tertentu yang boleh lewat, dengan syarat ketat dan koordinasi khusus.
Iran Izinkan Kapal Lewati Selat Hormuz, Apa Syaratnya?
Keputusan Iran izinkan kapal lewati Selat Hormuz jadi angin segar. Tapi jangan buru-buru lega.
Faktanya, jalur energi paling vital dunia ini belum benar-benar “normal”.
Iran menegaskan bahwa hanya kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor yang boleh melintas. Artinya, kapal terkait Amerika Serikat dan Israel tetap dilarang.
“Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kita. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut, dengan koordinasi.” — ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Kapal Wajib Koordinasi Sebelum Melintas
Tidak cukup hanya “bukan musuh”.
Setiap kapal yang ingin melintas harus:
- Melakukan koordinasi dengan otoritas Iran
- Mematuhi seluruh regulasi pelayaran
- Tidak terlibat dalam aktivitas yang merugikan Iran
“Semua kapal dapat melintasi Selat Hormuz asal melakukan koordinasi dengan Iran, kecuali kapal musuh.” — ujar Perwakilan Tetap Iran untuk IMO, Ali Mousavi.
Dengan kata lain, akses dibuka… tapi tetap dikontrol ketat.
Kenapa Iran Tidak Membuka Selat Secara Penuh?
Pertanyaan besarnya: kenapa tidak sekalian dibuka total?
Jawabannya ada pada konflik yang masih membara.
Respons atas Serangan AS dan Israel
Iran melihat kebijakan ini sebagai langkah defensif.
Serangan yang terjadi sejak akhir Februari 2026 telah menghantam berbagai kota dan fasilitas penting di Iran, memicu eskalasi besar.
“Iran telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan pelayaran bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor.” — ujar Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Artinya, pembatasan ini bukan sekadar teknis—tapi politis.
Menunjukkan Kendali atas Jalur Energi Dunia
Selat Hormuz bukan jalur biasa.
Sekitar 20% minyak dunia lewat sini. Sedikit gangguan saja, efeknya langsung terasa global.
Dengan membuka akses terbatas, Iran seperti mengirim pesan: mereka masih memegang kendali.
“Langkah ini menunjukkan kemampuan Iran dalam mengelola jalur energi global.” — ujar Anggota Parlemen Iran, Mansour Alimardani.
Kondisi Terkini: Sudah Mulai Dilalui, Tapi Belum Normal
Meski sudah dibuka, aktivitas di Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya.
Baru Segelintir Kapal yang Berani Lewat
Data terbaru menunjukkan:
- Hanya sekitar 8–10 kapal yang melintas
- Kapal memilih jalur dekat pantai Iran
- Beberapa bahkan memberi sinyal khusus seperti “kargo makanan”
Ini menunjukkan satu hal: risiko masih tinggi.
Ribuan Kapal Masih Tertahan
Sebelumnya, dampak penutupan sangat besar:
- Sekitar 3.200 kapal tertahan
- Aktivitas pelayaran turun hingga 95%
- Biaya keamanan kapal melonjak drastis
Bahkan, ada operator kapal yang rela membayar hingga jutaan dolar demi jaminan keamanan.
Dampak Global Masih Mengintai
Meskipun Iran izinkan kapal lewati Selat Hormuz, dunia belum sepenuhnya aman.
Harga minyak sempat melonjak tajam, bahkan menembus lebih dari $100 per barel.
Negara-negara besar pun mulai bergerak.
- Jepang menekankan pentingnya keselamatan kapal
- Negara Eropa siap berkontribusi menjaga keamanan
- Organisasi maritim internasional mulai membahas koridor aman
Di sisi lain, ancaman juga belum hilang.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang.” — ujar Presiden Amerika, Donald Trump.
Dibuka, Tapi Masih Penuh Ketegangan
Keputusan Iran izinkan kapal lewati Selat Hormuz memang jadi titik terang.
Tapi ini bukan akhir krisis.
Akses masih terbatas. Risiko masih tinggi. Dan konflik belum benar-benar selesai.
Bagi dunia, ini seperti lampu kuning: boleh jalan… tapi tetap harus waspada.
