Beritanda.com – Perundingan Iran-AS kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjatuhkan sanksi dan tarif baru di tengah proses diplomasi nuklir yang dimediasi Oman. Tekanan ekonomi dan pengerahan militer AS dinilai memperkeruh suasana negosiasi yang berlangsung di Muscat, Jumat (6/2/2026). Situasi ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Sanksi Baru Trump di Tengah Perundingan Iran-AS
Perundingan Iran-AS yang baru dimulai langsung diiringi kebijakan keras dari Washington. Pada Jumat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang memberlakukan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang membeli barang dari Iran, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Gedung Putih menyebut kebijakan tersebut bertujuan memutus hubungan komersial negara ketiga dengan Teheran. Sektor energi, logam, dan petrokimia menjadi sasaran utama karena masih menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah Iran.
Selain tarif, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi terhadap 15 entitas dan 14 kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan ilegal minyak dan produk petrokimia Iran. Langkah ini mempertegas strategi tekanan maksimum di tengah perundingan Iran-AS.
Trump menilai Iran menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan. “Saya pikir Iran tampaknya sangat ingin mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan.
Ia juga menambahkan, “Yah, Anda harus bersiap. Kita punya banyak waktu,” saat ditanya soal batas waktu perundingan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih menempatkan tekanan sebagai alat utama dalam diplomasi.
Pengerahan Militer dan Ancaman Konflik Regional
Selain tekanan ekonomi, Amerika Serikat juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Pengerahan armada laut skala besar dilakukan setelah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Trump menyebut langkah itu sebagai pengiriman “armada” besar-besaran. Tujuannya disebut untuk memperkuat posisi tawar AS dalam perundingan Iran-AS.
Kepemimpinan Iran menilai pengerahan tersebut sebagai sinyal ancaman. Pejabat Teheran khawatir Washington dapat merealisasikan ancaman serangan militer jika diplomasi gagal.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh catatan serangan AS terhadap target nuklir Iran pada Juni lalu, yang dilakukan bersama Israel. Sejak saat itu, Iran mengklaim telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
Sebagai respons simbolik, televisi pemerintah Iran melaporkan penempatan rudal balistik Khorramshahr-4 di fasilitas bawah tanah Garda Revolusi. Langkah ini dipandang sebagai pesan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik.
Iran juga memperingatkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Teheran menegaskan negara-negara tersebut berpotensi terdampak jika terjadi serangan.
Tarik Ulur Diplomasi di Bawah Tekanan Global
Di tengah tekanan tersebut, perundingan Iran-AS tetap berjalan dengan mediasi Oman. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut proses negosiasi dimulai dengan baik.
“Ini adalah awal yang baik untuk negosiasi,” ujar Araqchi kepada televisi pemerintah Iran.
Ia menegaskan bahwa pembahasan hanya difokuskan pada isu nuklir. “Dialog apa pun membutuhkan pengekangan dari ancaman dan tekanan. (Teheran) hanya membahas masalah nuklirnya,” katanya.
Sementara itu, Amerika Serikat mendorong perluasan agenda perundingan. Washington ingin memasukkan isu rudal balistik, dukungan terhadap kelompok bersenjata, dan hak asasi manusia.
Iran menolak perluasan tersebut dan bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium. Namun, diplomat regional menyebut Teheran terbuka membahas tingkat dan kemurnian pengayaan.
Sebagai imbalan, Iran meminta pelonggaran sanksi perbankan dan minyak, serta pengurangan kehadiran militer AS di kawasan. Permintaan ini menjadi salah satu titik krusial dalam perundingan Iran-AS.
Oman selaku mediator menilai pembicaraan berlangsung sangat serius. Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menyatakan hasil perundingan akan dikaji dengan cermat di Teheran dan Washington.
Kegagalan mencapai kesepakatan dikhawatirkan memicu konflik berskala luas. Negara-negara penghasil minyak dan kekuatan dunia terus memantau perkembangan perundingan Iran-AS dengan penuh kewaspadaan.
Ancaman “hal-hal buruk” yang disampaikan Trump menambah tekanan psikologis terhadap Republik Islam. Situasi ini menempatkan diplomasi dan konfrontasi dalam garis tipis yang rawan berubah sewaktu-waktu.
