Beritanda.com – Cinta Laura dan Luna Maya mengunjungi Aceh pada Februari 2026 untuk meninjau langsung pemulihan pasca banjir dan longsor di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Kunjungan ke Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen itu dilakukan bersama WWF-Indonesia serta yayasan masing-masing, dengan fokus rehabilitasi lingkungan, infrastruktur, air bersih, hingga konservasi satwa. Aksi Cinta Laura dan Luna Maya ini berlangsung dalam rentang 13–21 Februari 2026 dan mendapat respons positif publik.
Bencana banjir-longsor yang terjadi pada November 2025 meninggalkan kerusakan cukup luas di sejumlah desa. Pemulihan di Aceh masih berjalan dan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Kunjungan Cinta Laura dan Luna Maya di Aceh
Cinta Laura berada di Aceh pada 13–16 Februari 2026. Ia mengunjungi Peusangan Gayo dan Takengon, termasuk SMP Negeri 22 Takengon di Desa Toweren serta sekolah dasar di Desa Salah Sirong Jaya dan Desa Uning Mas.
Selain berinteraksi dengan warga dan anak-anak terdampak, Cinta Laura ikut menanam pohon sebagai simbol pemulihan. Dalam unggahan Instagram pribadinya pada 17 Februari 2026, ia menulis, “Melindungi gajah berarti melindungi manusia juga.”
Sementara itu, Luna Maya berada di Aceh pada 16–19 Februari 2026. Ia mengunjungi Desa Karang Ampar, Bergang, dan Simpang Mulia di wilayah Bireuen untuk melihat langsung dampak banjir dan longsor.
Dalam pernyataannya, Luna Maya menegaskan, “Penting bagi kami untuk menjaga semangat hidup warga di wilayah terdampak. Kehadiran kami bukan hanya untuk memberi dukungan moral, tapi juga untuk memastikan upaya pemulihan terus berjalan dan tidak berhenti di tengah jalan. Kami mengajak masyarakat luas untuk turut berdonasi agar warga bisa bangkit dan pelan-pelan membangun kembali kehidupan mereka.”
Pada 17 Februari 2026, Luna juga membagikan momen penanaman pohon alpukat di Aceh dengan pesan, “Setelah semuanya runtuh, harapan tetap berdiri.”

Kolaborasi WWF dan Fokus Rehabilitasi di Aceh
Kunjungan Cinta Laura dan Luna Maya ke Aceh merupakan bagian dari kolaborasi dengan WWF-Indonesia melalui kampanye #PeusanganBangkit. Pada 19–21 Februari 2026, WWF mempublikasikan hasil asesmen di 12 desa terdampak.
Kebutuhan utama warga Aceh meliputi:
- Perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan.
- Akses air bersih dan sanitasi.
- Rehabilitasi lereng rawan longsor.
- Pemulihan penghidupan masyarakat.
Rusyda Deli, Direktur People, Operations & Growth WWF-Indonesia, menyatakan,
“Dalam setiap bencana alam, selain respons cepat untuk menyelamatkan nyawa, proses pemulihan adalah tahap yang sama pentingnya. Tahap ini membutuhkan waktu, sumber daya, dan biaya yang besar. Karena itu, dukungan publik sangat dibutuhkan agar warga terdampak dapat kembali hidup dengan layak. WWF-Indonesia berkomitmen untuk tetap hadir dan mendampingi proses rehabilitasi di wilayah terdampak di Aceh.”
Isu konservasi satwa, khususnya gajah, juga menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. Edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat satwa liar disampaikan sebagai bagian dari upaya jangka panjang mencegah bencana ekologis.
Respons Publik dan Jejak Filantropi
Cinta Laura dan Luna Maya dikenal aktif dalam kegiatan sosial melalui Act of Love Foundation dan Yayasan Luna Maya Nawasena. Aksi di Aceh memperkuat rekam jejak keduanya dalam isu kemanusiaan dan lingkungan.
Unggahan keduanya pada 17 Februari 2026 mendapat respons positif dari warganet. Banyak yang menilai kehadiran langsung di Aceh menunjukkan komitmen nyata, bukan sekadar simbolik.
Kunjungan ini terjadi dalam periode 90 hari terakhir pascabencana, ketika proses rehabilitasi masih berlangsung. Kondisi warga di sejumlah titik masih memerlukan dukungan berkelanjutan, terutama untuk pemulihan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan.
Kehadiran Cinta Laura dan Luna Maya di Aceh menegaskan pentingnya kolaborasi antara publik figur, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan. Dukungan moral, kampanye donasi, hingga rehabilitasi lingkungan menjadi bagian dari upaya membangun kembali kehidupan warga terdampak.
