Beritanda.com – Kenaikan harga energi dunia akibat konflik Iran mulai memberi tekanan baru terhadap sektor pertanian Argentina. Meski negara itu kini menikmati posisi sebagai eksportir minyak, dampak biaya produksi justru semakin terasa di wilayah agrikultur utama.
Kenaikan harga gas oil dan pupuk menjadi faktor paling dominan dalam menekan margin produksi tanaman pangan. Dalam konteks ini, provinsi pertanian utama seperti Buenos Aires, Córdoba, dan Santa Fé mulai menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan.
Harga minyak internasional tercatat naik 55 persen pada periode Januari hingga Maret tahun ini. Namun kenaikan harga gas oil di Argentina berada di level 31 persen.
Meski lebih rendah dibanding pasar global, kenaikan tersebut tetap memberi tekanan besar terhadap aktivitas pertanian yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Di lapangan, penggunaan gas oil menjadi kebutuhan utama dalam pengolahan lahan, distribusi hasil panen, hingga transportasi logistik antardaerah.
Akibatnya, biaya produksi mulai meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan harga komoditas pertanian internasional.
Hal ini terlihat terutama di Buenos Aires, Córdoba, dan Santa Fé yang menjadi pusat produksi pertanian nasional Argentina.
Selain bahan bakar, tekanan juga datang dari lonjakan harga pupuk urea. Secara global, harga urea naik hingga 75 persen.
Sementara itu, di Argentina kenaikannya mencapai 54 persen karena sebagian kebutuhan masih dipenuhi produksi domestik.
Kendati demikian, kenaikan tersebut tetap memperbesar biaya tanam pada komoditas jagung dan gandum.
Provinsi Buenos Aires, Córdoba, dan Santa Fé kembali menjadi wilayah dengan penggunaan urea terbesar karena dominasi produksi serealia nasional berada di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Entre Ríos menghadapi tekanan tambahan akibat tingginya penggunaan urea dalam produksi beras.
La Pampa juga mulai terdampak karena struktur pertanian wilayah tersebut masih bertumpu pada pola budidaya intensif pupuk.
Kenaikan harga gas oil tidak hanya memukul biaya produksi pertanian. Dampak lanjutan juga mulai terasa pada distribusi logistik nasional.
Wilayah yang jauh dari pelabuhan dan minim akses kereta api menghadapi kenaikan biaya pengiriman lebih tinggi.
Dalam konteks tersebut, kawasan timur laut Argentina serta wilayah Patagonia menjadi daerah yang paling rentan terhadap kenaikan ongkos transportasi.
Artinya, tekanan harga energi mulai memengaruhi rantai distribusi pangan secara lebih luas.
Yang jadi sorotan, kondisi ini muncul saat banyak sektor masih berusaha menjaga daya saing ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski sektor pertanian menghadapi tekanan biaya, Argentina masih memiliki bantalan ekonomi dari produksi energi domestik.
Negara tersebut kini telah menjadi eksportir minyak, sementara impor gas mulai terkonsentrasi hanya pada musim dingin.
Tak hanya itu, sekitar 50 persen kebutuhan urea nasional juga dipenuhi industri lokal.
Dengan kata lain, kenaikan biaya di Argentina masih lebih rendah dibanding negara yang bergantung penuh pada impor energi dan pupuk.
Pada praktiknya, kondisi itu membuat tekanan inflasi energi di Argentina tidak sebesar banyak negara lain yang terkena dampak perang Timur Tengah.
