Home » News » Daerah » Anxiety dan Depresi Dominasi Gangguan Mental 71.000 Siswa di Bandung
Siswa SMAIlustrasi Siswa SMA, 71.000 siswa SMA di Bandung di indikasi mengalami gangguan kesehatan mental - dok UPI

Bandung, Beritanda.com – Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode Agustus hingga Oktober 2025 menunjukkan tingginya kasus gangguan mental di kalangan pelajar Kota Bandung. Dari 148.239 siswa yang diperiksa, hampir separuh terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa dengan dominasi gejala Anxiety dan depresi. Temuan ini paling menonjol pada jenjang SMP/MTs yang berada pada fase perkembangan paling rentan.

Gangguan Mental Didominasi Ansietas dan Depresi Ringan

Data skrining CKG mengungkap bahwa gangguan mental pada pelajar Bandung mayoritas ditandai dengan kecemasan dan depresi. Dari kelompok siswa SMP/MTs yang terindikasi bermasalah, 76,46 persen mengalami gejala Anxiety ringan.

Selain itu, 7,89 persen siswa SMP menunjukkan indikasi Anxiety berat. Sementara itu, 15,23 persen mengalami depresi ringan dan 7,42 persen terindikasi depresi berat.

Angka tersebut menggambarkan tekanan psikologis yang cukup tinggi di lingkungan pendidikan. Beban akademik, relasi sosial, serta dinamika keluarga diduga menjadi faktor pemicu utama munculnya gangguan mental pada usia remaja.

Baca Juga :  SNBP 2026 Dibuka 3 Februari, Ini Rincian UKT PTN Favorit yang Perlu Diketahui Sejak Awal

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada tingkat menengah pertama. Pada jenjang SD/MI, dominasi ansietas ringan dan depresi ringan juga ditemukan dalam jumlah signifikan.

Perbedaan Tingkat Gangguan Mental Antarjenjang

Pada jenjang SD/MI sederajat, dari 80.724 peserta CKG, sebanyak 43.390 siswa atau 53,75 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa. Mayoritas menunjukkan gejala kecemasan ringan dan gangguan suasana hati ringan.

Sementara itu, pada tingkat SMA/MA, persentase gangguan mental tercatat lebih rendah, yakni 25,79 persen. Di sekolah luar biasa (SLB), angka kembali meningkat hingga 48,51 persen.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa fase transisi usia memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak. Masa pubertas dan pencarian identitas pada jenjang SMP menjadi periode paling rawan mengalami gangguan mental.

Ketidaksiapan menghadapi perubahan fisik, sosial, dan emosional turut memperkuat risiko tekanan mental di kalangan siswa.

Baca Juga :  Banjir Kab. Bandung : Dampak Meluas Usai Hujan Deras dan Arus Lalu Lintas Lumpuh

Upaya Sekolah Perkuat Deteksi Dini

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menegaskan bahwa hasil skrining gangguan mental akan ditindaklanjuti melalui asesmen mendalam. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar penanganan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.

Mulai dari pendampingan intensif di sekolah hingga rujukan ke layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak. Kalau hasil asesmen masih memungkinkan anak tetap belajar di sekolah umum, maka guru BK akan mengawal secara khusus,” ujar Asep.

Pemerintah Kota Bandung juga memperkuat peran guru Bimbingan Konseling dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa. Dalam waktu dekat, seluruh guru BK akan dibekali pelatihan bersama Himpunan Psikologi Indonesia.

Nanti para guru BK akan dibekali keilmuan oleh para psikolog, supaya bisa lebih fokus mendeteksi perubahan perilaku, pola pikir dan potensi risiko pada anak-anak. Usia SMP ini masa yang sangat rentan, tergantung bagaimana kita mengarahkan dan mengisi pola pikir mereka,” katanya.

Baca Juga :  Pukul dan Rampas STNK, Dua Debt Collector di Depok Ditangkap

Selain itu, Disdik berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, DP3A, dan Dinas Sosial untuk memperkuat layanan kesehatan mental. Pendekatan lintas sektor dinilai penting agar penanganan gangguan mental pada siswa berjalan berkelanjutan.