Beritanda.com – Di tengah meredupnya sorotan politik domestik, nama Anies Baswedan kembali mencuat lewat panggung internasional. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengungkap dirinya kini mendapat amanah sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh atau Royal Commission for Riyadh City (RCRC), Arab Saudi.
Informasi tersebut disampaikan Anies melalui akun media sosial resminya usai mengikuti Riyadh Competitiveness Forum (RCF) selama tiga hari pada 11–13 Mei 2026. Pengumuman itu langsung memantik perhatian publik karena menempatkan Anies dalam lingkar strategis pembangunan ibu kota Arab Saudi.
“Tiga hari terakhir di Riyadh, Arab Saudi, berpartisipasi dalam Riyadh Competitiveness Forum. Sejak tahun lalu ikut mendapat amanah sebagai anggota Dewan Penasihat dari Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh,” tulis Anies melalui akun Instagram dan X miliknya, Kamis (14/5/2026).
Anies hadir bersama tim Karsa Citylab, lembaga pemikir urban yang ia dirikan setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Ia menyebut forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antarkota dunia untuk meningkatkan daya saing perkotaan, termasuk dalam pembangunan sistem transportasi modern.
“Senang dan terhormat bahwa Riyadh bersemangat belajar dari kota-kota dunia, dengan Jakarta sebagai salah satu tolok ukur yang dianggap sukses melakukan transformasi transportasi publik terintegrasi,” ujar Anies.
Riyadh sendiri sedang menjalankan transformasi besar-besaran sebagai bagian dari Visi Saudi 2030 yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Anies Masuk Lingkar Strategis Transformasi Riyadh
Royal Commission for Riyadh City merupakan lembaga strategis kerajaan yang mengawal pembangunan ibu kota Saudi agar masuk jajaran 10 kota ekonomi terbesar dunia pada 2030.
Komisi ini berada di bawah kendali langsung Putra Mahkota Arab Saudi dan memiliki peran penting dalam perencanaan kota, transportasi, ekonomi, budaya, hingga pengembangan kualitas hidup warga.
Masuknya Anies sebagai penasihat menandai pengakuan terhadap rekam jejaknya di isu tata kelola kota.
Ini bukan debut internasional pertama Anies.
Sebelumnya, ia pernah duduk sebagai Vice Chairman C40 Steering Committee bersama pemimpin kota global seperti London dan Tokyo.
Pengalaman itu memperkuat posisi Anies sebagai figur yang cukup dikenal dalam jejaring diskusi pembangunan kota dunia.
Bagi Riyadh, transformasi transportasi Jakarta pada era kepemimpinan Anies dinilai relevan sebagai referensi pembangunan metropolitan modern di kawasan berkembang.
Ada Catatan Verifikasi yang Perlu Dicermati
Meski kabar ini ramai diberitakan, hingga laporan ini ditulis belum ada siaran pers resmi dari RCRC yang secara terbuka mencantumkan nama Anies dalam daftar anggota advisory council.
Situs resmi RCRC juga tidak mempublikasikan identitas lengkap para penasihat internasionalnya.
Artinya, informasi tersebut saat ini masih bersumber dari pernyataan langsung Anies melalui kanal pribadinya.
Di ruang publik Indonesia, kabar ini memunculkan dua pembacaan.
Sebagian melihatnya sebagai validasi atas rekam jejak Anies saat memimpin Jakarta. Sebagian lain mempertanyakan sejauh mana peran formal yang benar-benar dijalankan.
Namun satu hal sulit dibantah, ketika panggung politik nasional tak lagi ramai membicarakannya, Anies justru kembali muncul lewat forum strategis kelas global.
“Inilah salah satu wujud semangat Jakarta sebagai kota global, tak hanya jadi tuan rumah di negeri sendiri tapi jadi tamu memesona di panggung dunia,” tulis Anies.
Bila keterlibatan ini berlanjut dan terverifikasi lebih luas, posisi tersebut bisa memperkuat citranya bukan sekadar sebagai mantan kepala daerah, tetapi sebagai aktor dalam percakapan tata kelola kota dunia.
