Beritanda.com – Senator Filipina Ronald “Bato” Dela Rosa resmi berstatus buron setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada 13 Mei 2026 memasukkannya ke daftar at large. Status itu muncul hanya beberapa jam setelah insiden dramatis di Gedung Senat Filipina, ketika suara tembakan meletus dan mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina itu dilaporkan melarikan diri dari kompleks parlemen.
Hingga Jumat (15/5/2026), keberadaan Dela Rosa belum diketahui. Pemerintah Filipina menggelar rapat darurat keamanan, sementara penyelidikan besar-besaran berlangsung untuk mengungkap apakah insiden penembakan di dalam gedung negara itu merupakan bagian dari skenario pelarian terencana.
Dela Rosa, 64 tahun, dituduh ICC melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang melawan narkoba era Presiden Rodrigo Duterte. Ia disebut berperan sebagai indirect co-perpetrator atas operasi yang diduga menewaskan ribuan warga sipil selama masa jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Nasional Filipina pada 2016 hingga 2018.
Kasus ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi sistem hukum Filipina sejak mantan Presiden Rodrigo Duterte ditangkap dan diterbangkan ke Den Haag pada Maret 2025.
Kejar-kejaran di Gedung Senat Berubah Jadi Kekacauan Nasional
Drama dimulai pada Senin (11/5/2026), ketika Dela Rosa tiba-tiba muncul di Gedung Senat setelah menghilang dari publik selama hampir enam bulan.
Kehadirannya bukan tanpa alasan. Ia datang untuk memberikan suara dalam pemilihan Ketua Senat, yang berujung pada kemenangan Alan Peter Cayetano, sekutu politik keluarga Duterte.
Tak lama setelah pemungutan suara selesai, petugas Biro Investigasi Nasional (NBI) mencoba mengeksekusi surat perintah penangkapan ICC yang sebelumnya dirahasiakan sejak November 2025.
Rekaman CCTV memperlihatkan Dela Rosa berlari menyusuri lorong dan tangga gedung parlemen, bahkan sempat terjatuh saat dikejar aparat.
Situasi berubah tegang ketika ia berhasil masuk ke ruang pleno dan memperoleh perlindungan dari senator sekutunya.
Presiden Senat Alan Cayetano kemudian menempatkan Dela Rosa dalam protective custody.
“Tidak ada upaya penghalangan terhadap keadilan,” kata Cayetano, yang mengaku belum melihat dokumen resmi ICC secara langsung.
Namun langkah itu memicu kritik tajam dari aktivis HAM dan sejumlah senator oposisi.

Tembakan Misterius dan Hilangnya Dela Rosa
Puncak kekacauan terjadi pada Rabu malam (13/5/2026).
Sekitar pukul 19.46 waktu Manila, lebih dari 10 letusan senjata terdengar dari lantai dua Gedung Senat. Wartawan dan staf berhamburan mencari perlindungan.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Polisi kemudian menangkap seorang tersangka yang diketahui bekerja sebagai sopir untuk Biro Investigasi Nasional, ironisnya lembaga yang sedang berupaya menangkap Dela Rosa.
Beberapa jam setelah kekacauan itu, Dela Rosa dilaporkan sudah tidak lagi berada di kompleks parlemen.
“Petugas keamanan telah mengonfirmasi bahwa Senator Bato tidak lagi berada di gedung ini,” kata Cayetano dalam konferensi pers dini hari.
Istri Dela Rosa juga disebut telah mengirim pesan yang mengonfirmasi suaminya berhasil pergi.
| Status Terkini | Kondisi |
|---|---|
| Status ICC | Resmi buron |
| Keberadaan | Tidak diketahui |
| Kasus Penembakan | 1 tersangka ditangkap |
| Investigasi Pelarian | Masih berlangsung |
Lebih dari Sekadar Penangkapan
Kasus ini bukan hanya soal hukum internasional.
Kemunculan Dela Rosa di Senat diyakini berkaitan erat dengan pertarungan politik yang lebih besar: upaya blok Duterte mempertahankan pengaruh di parlemen menjelang sidang pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte.
Suara Dela Rosa disebut menjadi faktor penentu kemenangan Cayetano sebagai Ketua Senat baru, figur yang diperkirakan memainkan peran penting dalam proses politik terhadap Sara Duterte.
Analis menilai Dela Rosa mungkin sengaja mengambil risiko muncul demi memastikan loyalis Duterte menguasai lembaga yang nantinya menjadi “hakim politik” bagi putri mantan presiden itu.
Jika benar demikian, pelariannya bukan sekadar kabur dari ICC. Ini adalah langkah politik dengan taruhan kekuasaan nasional.
Kini tekanan publik mengarah pada Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Apakah pemerintah akan benar-benar membantu penangkapan senator buron tersebut, atau membiarkan krisis hukum internasional ini berubah menjadi pertarungan elite yang tak pernah terselesaikan?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya nasib Ronald Dela Rosa, tetapi juga reputasi demokrasi Filipina di mata dunia.
