Beritanda.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati kerangka hubungan strategis baru dalam kunjungan kenegaraan di Beijing, Kamis (15/5/2026), yang menandai pemulihan diplomasi tingkat tinggi kedua negara setelah hampir satu dekade tanpa kunjungan resmi presiden AS ke China. Namun di balik sinyal stabilitas itu, isu Taiwan tetap menjadi titik ketegangan paling sensitif.
Pertemuan bilateral Trump dan Xi selama dua jam 15 menit di Balai Besar Rakyat Beijing menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, mulai dari kerja sama perdagangan, kecerdasan buatan, stabilitas energi global, hingga komitmen menjaga hubungan yang disebut kedua pihak sebagai “konstruktif dan stabil secara strategis.”
Ini menjadi kunjungan kenegaraan kedua Trump ke China dan yang pertama pada masa jabatan keduanya. Pertemuan tersebut juga menjadi kelanjutan dari KTT Busan 2025 yang mulai mencairkan perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Trump datang bersama delegasi elite Washington, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Sebanyak 17 pemimpin bisnis AS juga ikut serta, termasuk CEO Apple Tim Cook, CEO Nvidia Jensen Huang, serta Elon Musk.
Kesepakatan Dagang dan Sinyal Reda Perang Ekonomi
Gedung Putih menyebut kedua negara membahas perluasan akses pasar bagi bisnis Amerika di China dan peningkatan investasi China di industri strategis AS.
Trump bahkan mengklaim Xi menyetujui pembelian 200 pesawat Boeing.
“Satu hal yang dia setujui hari ini, dia akan memesan 200 jet. Itu hal yang besar. Boeing,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Selain Boeing, Beijing juga disebut siap meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika, termasuk kedelai dan daging sapi. Jika terealisasi, langkah ini dapat menjadi dorongan ekonomi signifikan bagi sektor industri AS menjelang tahun politik domestik.
Namun sejumlah analis menilai implementasi kesepakatan tersebut masih menyisakan tanda tanya, terutama karena Boeing sendiri tengah menghadapi tekanan produksi dan pengawasan keselamatan global.
| Agenda Ekonomi | Hasil Pertemuan |
|---|---|
| Pembelian Boeing | China disebut pesan 200 jet |
| Pertanian AS | Peningkatan impor kedelai dan daging sapi |
| Rare Earth | Kelanjutan pelonggaran kontrol ekspor dibahas |
| AI | Kerangka dialog keamanan dan risiko |
Taiwan Jadi Garis Merah Beijing
Meski atmosfer pertemuan tampak hangat, Xi menyampaikan peringatan paling keras soal Taiwan.
“Jika isu ini tidak ditangani dengan benar, hubungan kedua negara berisiko mengalami bentrokan bahkan konflik,” tegas Xi.
Peringatan ini muncul setelah Persiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan akan membahas penjualan senjata ke Taiwan bersama Xi. Langkah itu memicu kekhawatiran di kawasan Indo-Pasifik karena berpotensi mengguncang keseimbangan keamanan regional.
Menariknya, Gedung Putih tidak menyinggung Taiwan dalam pernyataan resminya. Perbedaan framing ini menunjukkan Washington dan Beijing masih memiliki tafsir berbeda atas hasil pertemuan.
Pemerintah Taiwan sendiri mengaku terus memantau perkembangan dan tetap berkoordinasi erat dengan Washington.
Iran dan Selat Hormuz Jadi Fokus Baru
Trump dan Xi juga sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga stabilitas pasokan energi global.
Kedua pihak menolak militerisasi jalur energi vital tersebut dan menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Namun muncul perbedaan narasi internal di kubu AS. Trump mengklaim Xi menawarkan bantuan diplomatik untuk menyelesaikan konflik Iran, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut Washington tidak meminta bantuan Beijing.
Kontras ini memperlihatkan bahwa meski diplomasi Trump-Xi terlihat solid di depan publik, koordinasi narasi internal pemerintahan AS masih belum sepenuhnya sinkron.
Reset Diplomasi, Tapi Kompetisi Belum Berakhir
Secara politik global, hasil KTT ini menandai fase baru hubungan AS-China: bukan persahabatan, melainkan kompetisi yang dikelola agar tidak berubah menjadi krisis terbuka.
Analis menilai kedua negara kini memilih “stabilitas terkendali”, sebuah model hubungan di mana rivalitas tetap berlangsung tetapi dibatasi pagar diplomatik.
Trump menutup pertemuan dengan optimisme.
“Hubungan kita akan lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Namun dunia memahami bahwa di balik jamuan makan malam dan saling puji di Beijing, persaingan dua kekuatan terbesar dunia itu belum benar-benar usai. Ia hanya memasuki babak baru yang lebih terukur, lebih halus, namun tetap penuh risiko.
