Beritanda.com – Seorang kiai sepuh berusia 70 tahun di Cikatomas, Kab Tasikmalaya, dikeroyok hingga pingsan usai salat Dzuhur, memicu gelombang emosi publik dan tekanan terhadap aparat untuk bertindak cepat.
Dari Sosok Moral Desa Menjadi Korban Kekerasan
Siang itu, Rabu 15 April 2026, Kiai Abdul Yani berjalan seperti biasa menuju kebunnya di Kampung Surian, Desa Cayur. Aktivitas sederhana setelah salat Dzuhur itu berubah drastis ketika sekelompok orang menghadangnya di tengah jalan.
Tanpa banyak percakapan, kekerasan terjadi. Tubuh renta yang selama ini dikenal sebagai pengajar agama dan petani itu tak mampu melawan. Ia dipukuli hingga pingsan, mengalami luka di bagian wajah, lalu dilarikan ke Puskesmas Cikatomas.
Kondisinya kini stabil dan sudah bisa berkomunikasi. Namun, luka yang ditinggalkan tak hanya fisik. Di mata warga, peristiwa ini mengguncang rasa aman karena yang menjadi korban bukan sosok biasa.
Sebagai Wakil Ketua MUI Desa Cayur dan alumni pesantren, Kiai Abdul Yani dikenal luas sebagai rujukan moral. Dalam struktur sosial desa, figur seperti dirinya sering menjadi penengah konflik, bukan justru berada di dalam pusaran kekerasan.
Reaksi Emosional Umat dan Mobilisasi Massa
Respons masyarakat datang cepat. Keesokan harinya, ratusan warga dan umat Islam berkumpul di depan Polsek Cikatomas. Mereka menuntut kejelasan dan penangkapan pelaku.
Di media sosial, nada yang muncul cenderung seragam. Desakan agar pelaku segera ditangkap mengalir deras, bahkan disertai ajakan untuk bergerak sendiri jika aparat dinilai lambat.
Tokoh agama pun angkat suara.
“Tindakan biadab ketika seorang kiai sepuh dianiaya sampai pingsan” tegas KH Muhammad Yan-yan Al Bayani.
Ia juga memberi tekanan terbuka kepada aparat.
“Kami mendesak Polres Kabupaten Tasikmalaya segera menangkap pelakunya, jangan sampai lambat” ujarnya.
Pernyataan paling keras muncul saat ia menyampaikan kemungkinan mobilisasi santri.
“Bila aparat tidak segera menangkap pelaku, maka kami akan mengerahkan 100 santri terlatih untuk memburu pelaku” tambahnya.
Di sisi lain, ada pula seruan untuk menahan diri. Beberapa ulama lokal meminta umat tetap tenang dan memberi ruang pada proses hukum, meski emosi publik terus meningkat.
Simbol yang Terluka, Dampak yang Meluas
Kasus ini berkembang lebih dari sekadar dugaan penganiayaan. Ketika seorang kiai sepuh menjadi korban, maknanya bergeser ke ranah simbolik.
Di banyak wilayah seperti Tasikmalaya, kiai bukan hanya pemuka agama. Ia juga penjaga nilai, rujukan sosial, dan figur yang dihormati lintas generasi. Kekerasan terhadap sosok ini sering kali dipersepsikan sebagai serangan terhadap kehormatan komunitas.
Itulah sebabnya reaksi yang muncul tidak biasa. Mobilisasi massa, tekanan terhadap aparat, hingga ancaman aksi langsung menunjukkan bagaimana kuatnya ikatan emosional masyarakat terhadap figur ulama.
Di balik itu, motif kasus ini masih diselidiki. Dugaan sementara mengarah pada konflik lahan garapan dengan sistem tumpang sari, disertai indikasi intimidasi sebelumnya.
Polsek Cikatomas telah melimpahkan kasus ke Sat Reskrim Polres Tasikmalaya. Hingga kini, identitas pelaku belum diumumkan secara resmi dan proses pemeriksaan saksi masih berlangsung.
Peristiwa ini menyisakan pertanyaan yang lebih besar. Ketika figur moral desa bisa menjadi target kekerasan, bagaimana masyarakat menjaga ruang aman bagi tokoh-tokoh yang selama ini justru menjaga harmoni?
