Home » Entertainment » Seleb » Jerome Polin Rugi Rp38 Miliar, Kepercayaan Jadi Celah Penipuan
Jerome PolinInfluencer dan Youtuber Jerome Polin, mengaku ditipu hingga 38 M, dan menutup usahanya Menantea - dok Instagram

Beritanda.com – Jerome Polin mengungkap kerugian Rp38 miliar akibat penipuan internal di bisnis Menantea, yang berujung pada keputusan menutup seluruh operasional brand tersebut per 25 April 2026.

Saat Laporan Terlihat “Sehat”, Uang Justru Hilang

Awalnya, tidak ada yang terlihat janggal. Laporan keuangan yang diterima Jerome Polin dan kakaknya, Jehian Panangian Sijabat, menunjukkan bisnis berjalan baik, bahkan cenderung menguntungkan.

Namun di balik file Excel yang rapi itu, realitasnya berbeda. Saldo rekening perusahaan justru terkuras, sementara tagihan dari pemasok terus menumpuk.

Kecurigaan mulai muncul sejak 2023, ketika arus kas tidak sejalan dengan performa outlet yang ramai. Dari titik itu, dugaan penyelewengan perlahan terkuak.

“Kami mengecek laporan keuangan hanya dari file Excel. Ternyata laporan itu palsu dan bisa diedit sedemikian rupa. Kesalahan fatal saya adalah tidak mengecek mutasi rekening secara langsung” ungkap Jerome Polin.

Modus yang digunakan terbilang sederhana namun efektif: manipulasi laporan keuangan digital. Data diubah agar terlihat sehat, sementara dana perusahaan dialihkan secara bertahap ke rekening pribadi.

Total kerugian yang teridentifikasi mencapai Rp38 miliar.

Kepercayaan Tanpa Verifikasi, Risiko yang Sering Terjadi

Kasus ini menyoroti satu celah krusial dalam banyak bisnis modern: ketergantungan pada laporan internal tanpa verifikasi langsung.

Dalam ekosistem startup dan bisnis kreatif, founder kerap fokus pada ekspansi, branding, dan operasional. Sementara kontrol keuangan diserahkan penuh kepada pihak tertentu yang dianggap berpengalaman.

Di sinilah risiko muncul.

Dalam kasus Menantea, oknum mitra bisnis yang memegang kendali operasional dan keuangan diduga memanfaatkan kepercayaan tersebut. Dana dari penjualan franchise dan operasional disebut sudah dialihkan sejak awal bisnis berjalan.

Sebagian bahkan digunakan untuk menutup kewajiban di bisnis lain.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Praktik manipulasi laporan berbasis spreadsheet relatif sulit terdeteksi jika tidak disandingkan dengan data mutasi bank atau audit independen.

Ketika laporan terlihat “aman”, alarm justru sering tidak berbunyi.

Penutupan Menantea dan Upaya Menjaga Tanggung Jawab

Tekanan finansial yang terus membesar akhirnya membuat Menantea tidak mampu bertahan. Brand minuman yang sempat memiliki lebih dari 200 outlet itu resmi diumumkan tutup permanen pada 25 April 2026.

Meski berada di posisi korban, Jerome dan Jehian tetap mengambil langkah untuk menyelesaikan kewajiban bisnis.

Mereka menyuntik dana pribadi sekitar Rp10 miliar untuk menjaga operasional tetap berjalan sementara waktu, termasuk membayar gaji karyawan dan kewajiban kepada pemasok.

Sebagai penutup, program promo besar-besaran dilakukan untuk membantu mitra yang masih bertahan hingga hari terakhir operasional.

“Sebenarnya, hasil audit Menantea udah keluar. Dan udah ketahuan berapa uang yang ditilep, angkanya hampir Rp10 M. Dan itu jumlah yang aku dan bang Jehian keluarin untuk nyelamatin Menantea” ujar Jerome.

Di sisi lain, keputusan untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum juga menjadi sorotan. Biaya audit forensik yang tinggi serta proses panjang menjadi pertimbangan utama.

Kasus ini meninggalkan pelajaran yang jelas: dalam bisnis, kepercayaan saja tidak cukup. Tanpa kontrol dan verifikasi yang kuat, celah sekecil apa pun bisa berkembang menjadi kerugian besar.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News