Beritanda.com – Ketegangan antara Pakistan dan Afganistan kembali memuncak setelah serangan udara dan bentrokan darat terjadi di sepanjang perbatasan sepanjang 2.600 kilometer. Serangan yang menyasar target pemerintahan Taliban di Kabul, Kandahar, dan Paktia itu disebut sebagai eskalasi besar yang mengancam konflik berkepanjangan antara dua negara bertetangga. Kedua pihak melaporkan korban jiwa dalam jumlah besar dengan klaim yang saling bertolak belakang.
Eskalasi di Perbatasan 2.600 Kilometer
Sumber keamanan Pakistan menyebut serangan melibatkan rudal udara ke darat yang menghantam kantor dan pos militer Taliban. Selain itu, bentrokan darat dilaporkan terjadi di berbagai sektor sepanjang garis perbatasan Pakistan dan Afganistan.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyebut situasi tersebut sebagai perang terbuka.
“Our cup of patience has overflowed. Now it is open war between us and you (Afghanistan),” ujarnya pada Jumat.
Taliban mengonfirmasi adanya serangan udara Pakistan di Kabul, Kandahar, dan Paktia. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan pihaknya telah meluncurkan serangan balasan terhadap instalasi militer Pakistan.
Serangan terhadap instalasi pemerintah Taliban di kota-kota besar Afganistan dinilai sebagai peningkatan signifikan konflik. Langkah ini berpotensi memicu pertempuran jangka panjang di frontier sepanjang 2.600 kilometer yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Klaim Korban dan Situasi Keamanan Tinggi
Pemerintah Pakistan menyatakan 133 pejuang Taliban tewas dan lebih dari 200 orang terluka, dengan 27 pos dihancurkan dan sembilan direbut. Taliban membalas dengan klaim 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos direbut.
Taliban juga menyebut delapan pejuangnya tewas, 11 terluka, dan 13 warga sipil mengalami luka-luka di provinsi Nangarhar. Angka korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Saksi mata di Kabul melaporkan suara ledakan keras dan sirene ambulans terdengar di berbagai titik kota. Rekaman video yang beredar menunjukkan kepulan asap hitam tebal dan kobaran api di beberapa lokasi, termasuk bangunan yang disebut sebagai markas Taliban di Paktia.
Pakistan meningkatkan status keamanan nasional sejak awal pekan setelah meluncurkan serangan yang diklaim menargetkan kamp Tehreek-e-Taliban (TTP) dan militan ISIS di wilayah timur Afganistan. Pemerintah Punjab juga menyatakan siaga tinggi terhadap potensi serangan balasan militan.
Ancaman Konflik Berkepanjangan dan Upaya Mediasi
Hubungan Pakistan dan Afganistan telah lama tegang akibat tuduhan Islamabad bahwa Kabul melindungi militan yang menyerang wilayah Pakistan. Taliban membantah tuduhan tersebut dan menyebut keamanan Pakistan sebagai masalah internal.
Bentrok pada Oktober lalu sempat menewaskan puluhan tentara sebelum negosiasi yang difasilitasi Turki, Qatar, dan Arab Saudi menghentikan permusuhan. Kini, eskalasi terbaru memunculkan kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Arab Saudi menyatakan menteri luar negeri kedua negara telah berbicara untuk membahas upaya meredakan ketegangan. Rusia, satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban, menyerukan penghentian permusuhan dan menyatakan siap mempertimbangkan mediasi jika diminta kedua pihak.
Dengan kemampuan militer Pakistan yang jauh lebih unggul dan pengalaman tempur gerilya Taliban selama puluhan tahun, potensi konflik terbuka antara Pakistan dan Afganistan berisiko memperluas instabilitas kawasan. Perbatasan 2.600 kilometer kini kembali menjadi titik panas yang mengancam keamanan regional.
