Home » Kesehatan » Rambut Rontok Gen Z Meningkat, Stres dan Gaya Hidup Jadi Pemicu
Rambut Rontok Gen zGen Z di Indonesia mengalami gangguan rambut Rontok lebih cepat

Beritanda.com – Rambut rontok kini tidak lagi identik dengan usia tua. Data terbaru menunjukkan Generasi Z mengalami rambut rontok lebih cepat, dengan stres mental dan gaya hidup modern menjadi faktor utama yang memicu kondisi ini.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya laporan kerontokan rambut di usia muda. Data menunjukkan 56 persen Gen Z di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, kelelahan kronis, dan gangguan tidur. Kondisi tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan munculnya rambut rontok.

Mengacu pada temuan tersebut, perubahan pola kesehatan ini menjadi sorotan karena terjadi pada kelompok usia produktif yang sebelumnya tidak identik dengan masalah tersebut.

Rambut Rontok Muncul Lebih Dini pada Gen Z

Secara faktual, rambut memiliki siklus pertumbuhan yang dipengaruhi kondisi tubuh. Dalam keadaan normal, rambut akan tumbuh, beristirahat, lalu rontok secara alami.

Namun pada kondisi stres, siklus ini terganggu. Rambut masuk fase rontok lebih cepat dari seharusnya.

Kondisi ini dikenal sebagai telogen effluvium, yaitu ketika folikel rambut berhenti tumbuh sementara dan rontok secara massal. Dalam praktiknya, kondisi ini sering muncul setelah tekanan mental yang berkepanjangan.

Yang jadi sorotan, laporan lintas studi menunjukkan kelompok usia muda memiliki tingkat stres lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Stres Mental Jadi Faktor Dominan

Tekanan kehidupan modern menjadi salah satu pemicu utama. Gen Z menghadapi tuntutan pendidikan, pekerjaan, serta ekspektasi sosial yang terus meningkat.

Di sisi lain, media sosial menghadirkan standar penampilan yang tinggi dan konstan. Hal ini menciptakan tekanan tambahan yang tidak selalu terlihat.

Akibatnya, stres menjadi bagian dari keseharian. Dalam konteks kesehatan, stres kronis memengaruhi keseimbangan hormon yang berperan dalam pertumbuhan rambut.

Dampaknya, rambut rontok terjadi lebih cepat dan lebih banyak.

Gangguan Tidur dan Kelelahan

Gangguan tidur menjadi faktor yang sering menyertai stres. Banyak Gen Z mengalami pola tidur tidak teratur akibat aktivitas digital dan tuntutan harian.

Dalam kondisi ini, tubuh tidak memiliki waktu cukup untuk melakukan pemulihan.

Efek langsungnya, keseimbangan tubuh terganggu. Rambut menjadi salah satu bagian yang terdampak.

Gaya Hidup Modern Memperparah Kondisi

Selain stres, gaya hidup modern turut memperkuat kondisi rambut rontok. Paparan layar tinggi, jam aktivitas panjang, dan minimnya waktu istirahat menjadi faktor tambahan.

Dalam praktiknya, pola hidup ini menciptakan ketidakseimbangan biologis.

Jika dibandingkan, generasi Milenial cenderung memiliki ritme hidup yang lebih stabil. Sebaliknya, Gen Z menghadapi dinamika yang lebih cepat dan intens.

Perbedaan ini menjadi salah satu faktor munculnya kerontokan rambut di usia lebih muda.

Kesadaran yang Meningkat

Yang menarik, Gen Z memiliki tingkat kesadaran lebih tinggi terhadap kesehatan rambut. Mereka lebih aktif mencari informasi dan berbagi pengalaman.

Hal ini membuat laporan rambut rontok meningkat.

Namun pada kenyataannya, peningkatan ini juga menunjukkan bahwa masalah tersebut memang nyata dan meluas.

Dampak yang Lebih dari Sekadar Fisik

Rambut rontok di usia muda tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik. Banyak Gen Z melaporkan perubahan pada kondisi psikologis mereka.

Rasa percaya diri menurun, muncul ketidaknyamanan dalam interaksi sosial, hingga kekhawatiran terhadap penampilan.

Di sisi lain, tren ini juga mendorong meningkatnya permintaan terhadap produk dan layanan perawatan rambut.

Mulai dari suplemen hingga perawatan medis, kebutuhan akan solusi semakin tinggi seiring meningkatnya kesadaran.

Dalam konteks tersebut, rambut rontok menjadi indikator perubahan gaya hidup dan tekanan mental yang dialami generasi muda saat ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News