Beritanda.com – Kemacetan lalu lintas masih menjadi persoalan utama di berbagai kota besar di Indonesia. Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tinggi, aktivitas masyarakat yang padat, serta keterbatasan infrastruktur jalan membuat waktu tempuh perjalanan menjadi semakin tidak efektif.
Banyak orang mengira Jakarta adalah kota paling macet di Indonesia. Namun, berdasarkan data pemantauan lalu lintas terbaru, posisi teratas justru ditempati oleh kota lain.
Berikut daftar lima kota termacet di Indonesia beserta faktor penyebabnya.
5 Kota Termacet di Indonesia
1. Bandung
Bandung menempati posisi pertama sebagai kota paling macet di Indonesia. Kota ini bahkan masuk dalam jajaran kota termacet dunia.
Tingkat kemacetan di Bandung mencapai 64,1 persen. Untuk menempuh jarak 10 kilometer, waktu yang dibutuhkan rata-rata mencapai 32 menit 26 detik. Kecepatan kendaraan saat jam sibuk hanya sekitar 16,3 km/jam.
Tingginya volume kendaraan, khususnya saat akhir pekan dan musim liburan, menjadi penyebab utama kemacetan di Kota Kembang. Arus wisatawan yang terus meningkat membuat ruas jalan utama kerap padat.
2. Jakarta
Jakarta berada di posisi kedua sebagai kota termacet di Indonesia. Meski tidak berada di peringkat pertama, kemacetan di ibu kota masih tergolong serius.
Tingkat kemacetan Jakarta tercatat sebesar 59,8 persen. Rata-rata perjalanan 10 kilometer ditempuh dalam waktu 26 menit 19 detik, dengan kecepatan sekitar 17,8 km/jam pada jam sibuk.
Padatnya aktivitas ekonomi, mobilitas penduduk yang tinggi, serta arus kendaraan dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi membuat lalu lintas Jakarta sulit terurai.
3. Medan
Medan menempati peringkat ketiga kota termacet di Indonesia. Tingkat kemacetan di kota ini mencapai 54,2 persen, dengan waktu tempuh 10 kilometer sekitar 31 menit 55 detik.
Pertumbuhan jumlah kendaraan yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan pengembangan infrastruktur jalan. Aktivitas perdagangan dan distribusi barang di pusat kota juga sering memicu kepadatan lalu lintas.
4. Palembang
Palembang berada di posisi keempat sebagai kota termacet di Indonesia. Tingkat kemacetan di kota ini mencapai 52,7 persen.
Rata-rata perjalanan sejauh 10 kilometer membutuhkan waktu sekitar 28 menit 18 detik. Meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi serta pesatnya perkembangan kawasan perkotaan menjadi faktor utama kemacetan di Palembang.
5. Surabaya
Surabaya menempati posisi kelima dalam daftar kota termacet di Indonesia. Tingkat kemacetannya tercatat sebesar 43,7 persen.
Untuk menempuh jarak 10 kilometer, pengendara membutuhkan waktu sekitar 27 menit 54 detik. Aktivitas industri, perdagangan, dan pelabuhan membuat arus kendaraan berat dan kendaraan pribadi sering bertemu di banyak titik, sehingga memicu kemacetan.
Faktor Penyebab Macet
Kemacetan lalu lintas tidak hanya disebabkan oleh jumlah kendaraan yang banyak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemacetan dipengaruhi oleh faktor mikro dan makro.
Faktor Mikro
Faktor mikro merupakan penyebab yang terjadi langsung di jalan, antara lain:
- Kecelakaan lalu lintas
- Pengaturan lampu lalu lintas yang kurang optimal
- Perilaku pengemudi yang tidak tertib
- Parkir sembarangan
- Aktivitas di bahu jalan
Faktor-faktor ini dapat langsung memperlambat arus kendaraan dan menciptakan titik kemacetan.
Faktor Makro
Faktor makro mencakup permasalahan yang lebih luas, seperti:
- Pertumbuhan jumlah penduduk
- Perkembangan ekonomi
- Pola penggunaan lahan
- Konsentrasi pusat kegiatan di satu wilayah
- Kurangnya transportasi umum yang memadai
Ketidakseimbangan antara pertumbuhan kota dan kapasitas jalan membuat kemacetan semakin sulit diatasi.
Faktor Tambahan
Selain itu, sejumlah faktor lain juga memperparah kemacetan, seperti:
- Cuaca buruk
- Proyek konstruksi jalan
- Acara besar
- Volume kendaraan yang fluktuatif
- Desain jalan yang kurang optimal
Berbagai faktor tersebut sering saling berkaitan dan memperburuk kondisi lalu lintas.
Daftar lima kota termacet di Indonesia menunjukkan bahwa kemacetan bukan hanya persoalan ibu kota. Kota-kota besar lain juga menghadapi tantangan serupa akibat pertumbuhan kendaraan dan aktivitas masyarakat yang tinggi.
Upaya penataan transportasi, pengembangan infrastruktur, serta peningkatan layanan transportasi publik menjadi kunci utama untuk mengurangi kemacetan di masa depan.
