Beritanda.com – Pidato kenegaraan Donald Trump mendadak ricuh ketika presiden melontarkan serangan verbal soal imigran ilegal dan dugaan penipuan, memicu teriakan balasan dari anggota Partai Demokrat di ruang sidang DPR, Selasa waktu setempat. Ketegangan memuncak sekitar 50 menit setelah pidato dimulai, saat Donald Trump menantang hadirin untuk berdiri mendukung pernyataannya tentang perlindungan warga Amerika.
Serangan Verbal Donald Trump Picu Teriakan Balasan
Awalnya, Donald Trump berbicara mengenai imigrasi dan keamanan nasional. Namun suasana berubah ketika ia menyinggung komunitas Somalia di Minnesota dan menuduh adanya penjarahan dana pajak dalam jumlah fantastis.
“Jika berbicara tentang korupsi yang menjarah Amerika, tidak ada contoh yang lebih mengejutkan daripada Minnesota—di mana anggota komunitas Somalia telah menjarah sekitar $19 miliar dari uang pajak warga Amerika,” kata Trump.
Ia kemudian memperingatkan bahaya imigrasi tanpa batas. “Mengimpor budaya-budaya ini melalui imigrasi tanpa batasan dan perbatasan terbuka membawa masalah-masalah itu langsung ke Amerika Serikat,” tambahnya.
Ketegangan meningkat saat Donald Trump memerintahkan hadirin berdiri sebagai bentuk dukungan.
“Jika Anda setuju dengan pernyataan ini, maka berdirilah dan tunjukkan dukungan Anda: Tugas pertama pemerintah Amerika adalah melindungi warga negara Amerika, bukan imigran ilegal,” ujarnya.
Anggota Partai Republik berdiri. Sebagian besar Partai Demokrat tetap duduk. Pemandangan itu langsung memicu kecaman dari podium.
“Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri karena tidak berdiri! Kamu seharusnya malu!” kata Donald Trump dengan nada tinggi.
Ilhan Omar dan Rashida Tlaib Berteriak dari Seberang Ruangan

Situasi makin panas ketika anggota Kongres Minnesota, Ilhan Omar, dan anggota Partai Demokrat Michigan, Rashida Tlaib, berteriak menyebut presiden sebagai “pembohong.” Omar bahkan terdengar berteriak, “Kalian membunuh orang Amerika,” merujuk pada kematian Renee Good dan Alex Pretti bulan lalu.
Sebelumnya, Donald Trump pernah menyebut Omar sebagai “sampah” dan seseorang yang seharusnya “kembali” ke Somalia. Adu teriak itu membuat suasana ruang sidang semakin tegang, sementara kamera televisi terus menyorot ekspresi para anggota Kongres.
Meski mendapat teriakan balasan, Donald Trump tetap melanjutkan pidato dengan sikap menantang. Ia kembali menyerang Partai Demokrat.
“Orang-orang ini gila, saya beri tahu Anda, mereka gila,” katanya.
“Wah, kita beruntung memiliki negara dengan orang-orang seperti ini. Partai Demokrat menghancurkan negara kita, tetapi kita berhasil menghentikannya tepat pada waktunya.”
Drama Lain Warnai Pidato 108 Menit
Pidato Donald Trump juga diwarnai insiden lain. Anggota Kongres Texas, Al Green, diusir dari ruang sidang setelah mengangkat papan bertuliskan “Orang kulit hitam bukanlah kera!” yang diduga merujuk pada video rasis yang diunggah presiden sebelumnya.
Di sisi lain, hakim Mahkamah Agung Neil Gorsuch tidak menghadiri pidato tersebut. Hakim Amy Coney Barrett hadir bersama Ketua Mahkamah Agung John Roberts, Brett Kavanaugh, dan Elena Kagan. Kamera bahkan menangkap ekspresi Barrett ketika Donald Trump mengeluhkan putusan Mahkamah Agung yang disebutnya “sangat disayangkan.”
Pidato kenegaraan ini berlangsung selama 108 menit, mencetak rekor baru. Namun kurang dari satu jam, tanda kelelahan mulai terlihat di ruang sidang. Beberapa anggota DPR dari Partai Demokrat tertangkap kamera dengan mata terpejam, sementara gambar tersebut kemudian viral di media sosial.
Secara keseluruhan, pidato Donald Trump yang seharusnya menjadi ajang penyampaian agenda nasional justru berubah menjadi panggung konfrontasi politik terbuka, memperlihatkan jurang polarisasi yang semakin lebar di Washington.
