Beritanda.com – Situasi Perang di kawasan Asia Selatan semakin memanas setelah Pakistan menyatakan berada dalam “perang terbuka” dengan Afganistan yang dipimpin Taliban. Ketegangan meningkat menyusul laporan ledakan di Kabul serta pertempuran berkelanjutan di sepanjang perbatasan kedua negara.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa Islamabad kini mengambil langkah tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai agresi dari pihak Afganistan.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengumumkan bahwa pasukan Afganistan tengah menjalankan “operasi ofensif skala besar” terhadap militer Pakistan di sepanjang Garis Durand.
Pakistan dan Afganistan Saling Klaim Korban
Dalam perkembangan terbaru Perang Pakistan dan Afganistan, kedua pihak saling melaporkan jumlah korban jiwa yang berbeda.
Pakistan mengklaim telah menewaskan 133 pejuang Taliban, sementara dua personel keamanannya dilaporkan gugur. Di sisi lain, Afganistan menyatakan 55 tentara Pakistan tewas dan delapan pejuangnya gugur dalam serangan tersebut. Hingga kini, angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pakistan juga menyatakan telah melakukan serangan ke wilayah Kandahar dan Paktika di Afganistan. Taliban menyebut operasi mereka sebagai respons atas serangan udara Pakistan yang terjadi awal pekan ini.
“Kesabaran kita telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka. Sekarang akan ada tindakan yang menentukan,” ujar Khawaja Asif melalui media sosial X.
Sementara itu, mantan Presiden Afganistan Hamid Karzai menyatakan bahwa negaranya akan membela tanah air dengan persatuan penuh dan menanggapi agresi dengan keberanian.
Reaksi Dunia terhadap Perang Pakistan dan Afganistan
Eskalasi konflik antara Pakistan dan Afganistan memicu kekhawatiran luas dari komunitas internasional. Sejumlah negara dan lembaga global mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, ia mendesak Pakistan dan Afganistan untuk mematuhi kewajiban berdasarkan hukum internasional, khususnya hukum humaniter internasional, serta memprioritaskan perlindungan warga sipil.
Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan penyelesaian melalui dialog dan prinsip bertetangga baik. Dalam unggahan di X, ia menegaskan kesiapan Iran untuk membantu memfasilitasi dialog konstruktif antara Kabul dan Islamabad, serta menekankan pentingnya pengendalian diri di bulan suci Ramadan.
Rusia
Rusia, melalui Kementerian Luar Negeri yang dikutip kantor berita RIA, mendesak penghentian segera serangan lintas perbatasan dan menawarkan diri sebagai mediator apabila kedua pihak menyetujui.
Cina
Pemerintah Cina menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi di sepanjang perbatasan Pakistan-Afganistan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, mengatakan Beijing telah melakukan mediasi melalui saluran diplomatiknya dan siap memainkan peran konstruktif untuk meredakan situasi.
Eskalasi Perang di Garis Durand
Konflik terbaru ini merupakan puncak dari ketegangan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu di sepanjang Garis Durand, perbatasan yang memisahkan Pakistan dan Afganistan. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai agresi dan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan.
Pakistan menuding Taliban bertanggung jawab atas terorisme dan instabilitas domestik. Sementara itu, pihak Afganistan menilai kebijakan Pakistan selama ini menjadi akar dari kekerasan yang terus berulang.
Dengan kondisi yang semakin memanas, dunia kini menyoroti potensi dampak lebih luas dari Perang Pakistan dan Afganistan terhadap stabilitas kawasan Asia Selatan. Seruan internasional agar kedua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan terus menguat di tengah ancaman konflik yang lebih besar.
