beritanda.com – Pencemaran pestisida di Sungai Cisadane meluas hingga 22,5 kilometer setelah kebakaran gudang PT Biotek Saranatama pada 9 Februari 2026. Limbah kimia bercampur air pemadaman mengalir dari Sungai Jeletreng ke Cisadane dan berdampak pada biota, kualitas air, serta layanan air bersih lintas tiga wilayah.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyebut sekitar 20 ton pestisida terbakar. Residu kimia terbawa aliran air. Dampaknya terukur di lapangan.
“Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq, Rabu (11/2).
Jejak Pencemaran Pestisida 22,5 Kilometer
Secara faktual, KLH melaporkan sebaran cemaran melintasi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Titik awal berada di Sungai Jeletreng. Aliran kemudian menyatu dengan Sungai Cisadane hingga mendekati muara di Teluknaga.
Di lapangan, kematian biota akuatik teridentifikasi. Ikan mas, baung, patin, nila, hingga sapu-sapu ditemukan mati. Tim mengambil sampel air hulu dan hilir, serta sepuluh sampel ikan mati untuk uji laboratorium.
Tak berhenti di situ, pemeriksaan juga menyasar air tanah dan biota lain dengan melibatkan ahli toksikologi. Pengujian dilakukan untuk memastikan tingkat kontaminasi dan dampaknya pada kesehatan.
Imbas pada Warga

dan Layanan Air Bersih
Larangan Konsumsi Ikan dan Aktivitas Sungai
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang meminta warga tidak mengonsumsi ikan dari aliran sungai. “Kalau risiko jangka panjang zat kimia ini salah satunya menimbulkan kanker. Kalau masuk ke lambung, jadi kanker usus,” ujar Kepala Dinkes Hendra Tarmizi.
Imbauan juga mencakup penghentian sementara aktivitas di bantaran sungai. Warga diminta tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari sebelum ada kepastian hasil uji lanjutan.
Sementara itu, PDAM Tirta Benteng sempat menghentikan distribusi karena Sungai Cisadane menjadi sumber air baku utama. Warga melaporkan air berbau dan tampak berminyak.
“Untuk konsumsi saya belum berani, sementara hanya untuk mandi dan cuci piring,” kata Chun Yo.
Direktur Utama PDAM Tirta Benteng, Doddy Effendi, menyatakan distribusi kini dibuka bertahap setelah hasil laboratorium menunjukkan kualitas mulai memenuhi standar.
Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Tangerang Selatan menaburkan karbon aktif untuk menekan dampak cemaran. Proses pemantauan kualitas air masih berlangsung.
Pencemaran pestisida di Sungai Cisadane kini dalam tahap investigasi lanjutan dan pengawasan ketat lintas instansi.
