Beritanda.com – Retakan serius mulai terlihat di tubuh NATO. Sejumlah negara sekutu kini secara terbuka menolak tekanan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandai perubahan besar dalam dinamika aliansi militer tersebut.
Penolakan Terbuka dari Sekutu NATO
Ketegangan memuncak pada Maret 2026 saat Donald Trump meminta dukungan NATO untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah konflik dengan Iran.
Namun, respons yang muncul justru di luar ekspektasi Washington.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan tegas menyatakan:
“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya.”
Pernyataan serupa datang dari Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius:
“Ini bukan perang kami.”
Tak hanya itu, Spanyol, Italia, hingga Irlandia juga menunjukkan sikap serupa—menolak keterlibatan dalam konflik yang dipicu oleh langkah Amerika Serikat.
Dari Solidaritas ke Ketegangan
Situasi ini menandai perubahan signifikan dalam hubungan antar anggota NATO.
Selama puluhan tahun, NATO dikenal sebagai simbol solidaritas transatlantik. Namun kini, prinsip tersebut mulai dipertanyakan.
Retakan ini sebenarnya sudah terlihat sejak Januari 2026, ketika Donald Trump memicu kontroversi terkait Greenland.
Pernyataannya tentang kemungkinan memilih antara “merebut Greenland atau mempertahankan NATO” langsung memicu respons keras dari negara-negara Eropa.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bahkan memperingatkan bahwa konflik militer antar anggota NATO akan menghancurkan aliansi itu sendiri.
Krisis Kepercayaan Antar Sekutu
Lebih dari sekadar perbedaan pendapat, situasi ini berkembang menjadi krisis kepercayaan.
Sejumlah laporan menyebut bahwa negara-negara Eropa mulai meragukan komitmen Amerika Serikat terhadap prinsip pertahanan kolektif.
Bahkan, dalam beberapa analisis keamanan, Amerika Serikat mulai dipandang bukan lagi sebagai sekutu yang sepenuhnya dapat diandalkan.
Pernyataan keras Donald Trump yang menyebut NATO sebagai “macan kertas” semakin memperdalam jurang tersebut.
Eropa Mulai Ambil Sikap Mandiri
Di tengah ketidakpastian ini, negara-negara Eropa mulai menunjukkan tanda-tanda kemandirian dalam kebijakan pertahanan.
Alih-alih mengikuti arahan Washington, mereka memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dan berbasis kepentingan nasional masing-masing.
Beberapa negara bahkan mendorong solusi diplomatik dibandingkan eskalasi militer.
Langkah ini menunjukkan bahwa dominasi Amerika Serikat dalam NATO tidak lagi absolut seperti sebelumnya.
Ancaman Retaknya Aliansi Terkuat Dunia
Para pengamat menilai kondisi ini sebagai salah satu ujian terbesar dalam sejarah NATO sejak didirikan pada 1949.
Jika ketegangan terus berlanjut, bukan tidak mungkin aliansi ini akan mengalami perubahan struktural besar—atau bahkan kehilangan relevansinya.
Untuk saat ini, satu hal yang jelas: hubungan antara Donald Trump dan sekutu NATO tidak lagi berada dalam jalur yang sama.
Dan dunia kini menyaksikan, bagaimana aliansi yang dulu solid mulai menghadapi tekanan dari dalam.
