Beritanda.com – Campak kembali memicu alarm kesehatan. Penyakit yang sempat terkendali ini kini muncul lagi seiring turunnya cakupan imunisasi di Indonesia. Data terbaru menunjukkan lonjakan kasus suspek dan kematian, terutama pada anak yang belum pernah divaksin.
Campak Kembali Mengancam Saat Cakupan Vaksinasi Turun
Selama beberapa tahun terakhir, campak sebenarnya masuk dalam kategori Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Namun situasinya berubah setelah pandemi COVID-19, ketika banyak program imunisasi terganggu.
Akibatnya, kekebalan kelompok atau herd immunity mulai melemah. Padahal penyakit ini dikenal sangat menular—bahkan sering disebut sebagai salah satu virus paling mudah menyebar di dunia.
Satu orang penderita campak bisa menularkan virus kepada hingga 18 orang lain yang tidak memiliki kekebalan. Angka ini membuat penularannya sekitar 12 kali lebih cepat dibanding influenza.
Yang lebih mengejutkan, infeksi campak juga dapat merusak sistem pertahanan tubuh.
Penelitian menunjukkan virus ini mampu “menghapus” sebagian memori kekebalan tubuh. Artinya, anak yang sembuh dari campak bisa menjadi lebih rentan terhadap penyakit lain selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Lonjakan Kasus Campak di Indonesia
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan signifikan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang tahun 2025 tercatat:
- 63.769 kasus suspek campak
- 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium
- 69 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) sekitar 0,1 persen
Jumlah temuan kasus suspek bahkan meningkat 147 persen dibanding tahun sebelumnya, sehingga pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini.
Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, situasinya masih menjadi perhatian.
Tercatat:
- 8.224 kasus suspek campak
- 572 kasus terkonfirmasi
- 4 kematian dengan CFR sekitar 0,05 persen
Selain itu, terdapat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB terkonfirmasi yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, mengatakan pemerintah terus memperkuat sistem pemantauan penyakit ini.
“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons.” — ujar Andi Saguni.
Cakupan Imunisasi MR Turun, Jauh dari Target WHO
Lonjakan campak tidak bisa dilepaskan dari menurunnya cakupan imunisasi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan pada tahun 2025:
- Cakupan imunisasi MR dosis pertama: 82%
- Cakupan imunisasi MR dosis kedua: 77,6%
Angka tersebut masih jauh dari target 95 persen yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencapai kekebalan kelompok.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa penurunan imunisasi berdampak langsung pada peningkatan kasus.
“Tren penurunan cakupan imunisasi berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak.” — ujar Prima Yosephine.
Risiko Komplikasi Campak Tidak Boleh Diremehkan
Banyak orang masih menganggap campak sebagai penyakit ringan pada anak. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Infeksi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, antara lain:
- Pneumonia (radang paru) — penyebab utama kematian akibat campak
- Diare berat yang menyebabkan dehidrasi
- Otitis media atau infeksi telinga tengah yang dapat menurunkan pendengaran
- Ensefalitis atau radang otak yang bisa berakibat fatal
- Malnutrisi akibat turunnya nafsu makan anak
Dalam kasus yang sangat jarang namun fatal, campak juga dapat menyebabkan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), penyakit saraf yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi masa kanak-kanak dan hingga kini belum memiliki obat.
Karena itu para ahli menegaskan satu hal penting: imunisasi tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah campak dan menghentikan potensi wabah yang lebih besar.
