Beritanda.com – Badan Pengelola Investasi Danantara akan memulai enam proyek strategis hilirisasi secara serentak pada Februari 2026 sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Program hilirisasi Danantara ini mencakup sektor baja, aluminium, dan energi hijau untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Pemerintah menargetkan langkah ini menjadi fondasi Indonesia menuju negara berbasis industri.
Enam Proyek Hilirisasi Danantara Dimulai Serentak
Hilirisasi Danantara memasuki fase penting dengan dimulainya enam proyek strategis pada Februari 2026. Groundbreaking serentak ini menjadi penanda keseriusan pemerintah dalam membangun basis industri nasional yang terintegrasi.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyebut proyek-proyek tersebut sebagai pijakan awal menuju kemandirian industri. Fokus utama diarahkan pada sektor baja, aluminium, dan energi terbarukan.
“Minggu depan, kurang lebih hari Jumat, kami akan melakukan 6 groundbreaking. Ini artinya Indonesia sudah siap menjadi negara berbasis industri,” ujar Dony Oskaria di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi prioritas yang dikawal Danantara. Seluruh proyek dirancang untuk menggeser struktur ekonomi dari berbasis komoditas mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.
Industri Baja, Aluminium, hingga Energi Hijau Jadi Prioritas
Salah satu proyek utama dalam program hilirisasi Danantara adalah pembangunan pabrik slab baja di Cilegon, Banten. Proyek ini dikelola melalui PT Krakatau Steel (Persero) Tbk untuk memperkuat pasokan bahan baku domestik.
Pembangunan pabrik ini diharapkan dapat memutus ketergantungan impor bahan baku baja. Kemandirian di sektor hulu dinilai krusial bagi industri manufaktur nasional.
Selain baja, Danantara juga memulai ekspansi pabrik alumina untuk melengkapi rantai pasok industri aluminium. Selama ini, sektor tersebut masih menghadapi keterbatasan di tahap pengolahan menengah.
Sektor energi terbarukan turut menjadi perhatian. Danantara menjadwalkan pembangunan fasilitas produksi bioetanol dan bioavtur sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Pendanaan dan pelaksanaan proyek dilakukan secara mandiri. Strategi ini ditempuh untuk mempercepat pembangunan sekaligus memperkuat kapasitas internal.
Dukungan Pemerintah dan Integrasi Ekosistem Industri
Program hilirisasi Danantara berjalan seiring dengan agenda Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat struktur industri nasional. Pemerintah telah menetapkan 18 proyek prioritas dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun.
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya pembiayaan nasional dalam mendorong industrialisasi. Skema ini memungkinkan Indonesia bermitra secara setara tanpa ketergantungan modal asing.
“Kita tidak keluar negeri minta-minta investasi. Kita mengajak, dan kita punya kemampuan sekarang,” ujar Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
Dony Oskaria menjelaskan bahwa Danantara juga membangun ekosistem industri terpadu bersama BUMN strategis. Sektor perkapalan, kereta api, dan baja dirancang tumbuh secara paralel.
“Kita siapkan ekosistemnya. Industri perkapalan akan kita besarkan lewat merger, industri kereta api melalui INKA, dan industri baja di hulu. Semua ini terintegrasi dalam rencana hilirisasi Danantara,” pungkas Dony.
Melalui pendekatan terintegrasi ini, pemerintah menargetkan lahirnya basis industri yang kuat dan berdaya saing global. Hilirisasi Danantara diharapkan menjadi motor utama transformasi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
