Beritanda.com – Publik akhirnya tahu sisi paling sunyi dari hidup Denada. Setelah 24 tahun disimpan rapat, ia membongkar masa lalu sekaligus membantah tudingan menelantarkan Ressa yang kini ramai dipersoalkan.
Kasus ini mencuat sejak awal 2026 ketika Ressa menggugat Denada di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Di tengah polemik itu, Denada justru membuka fakta mengejutkan—dari kehamilan di usia muda hingga sosok ayah biologis yang selama ini disembunyikan.
Denada Bantah Telantarkan Ressa, Ungkap Fakta 24 Tahun
Pengakuan Denada bukan sekadar klarifikasi. Ini seperti membuka kotak lama yang selama ini terkunci rapat—dan isinya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Pengakuan itu dibeberkan oleh Denada dalam tayangan YouTube Feni Rose Official pada Senin (16/3/2026).
Ia mengungkap bahwa dirinya hamil saat berusia 20 tahun. Di fase hidup yang belum stabil, keputusan yang diambil jelas bukan perkara ringan.
Reaksi keluarga sempat memanas. Sang ibu, almarhumah Emilia Contessa, awalnya kaget dan marah. Namun, seiring waktu, dukungan datang—dan Denada memilih tetap melahirkan.
“Aku tahu risiko itu. Aku melahirkannya dengan kasih sayang,” — ujar Denada.
Keputusan itu jadi titik awal dari cerita panjang yang kini kembali dipertanyakan publik.
Ayah Ressa Disebut Kabur, Identitas Tetap Dirahasiakan
Bagian ini yang paling bikin publik bertanya-tanya.
Denada akhirnya buka suara soal ayah biologis Ressa. Namun, ia tidak menyebut nama. Hanya gambaran singkat—dan cukup tajam.
- Tidak mau bertanggung jawab
- Pergi setelah mengetahui kehamilan
- Tidak pernah terlibat dalam kehidupan Ressa
Sederhana, tapi menyisakan banyak tafsir.
“Aku menyerahkan Ressa pada saat itu kepada kerabat yang aku percayai. Itu adalah pilihan yang sangat berat,” — ungkap Denada.
Keputusan itu kerap dianggap sebagai “penelantaran”. Tapi bagi Denada, itu justru bentuk bertahan di situasi yang tidak ideal.
Bukti Transfer Jadi Jawaban Tuduhan Penelantaran
Di sinilah narasi mulai berbalik.
Denada membantah keras tuduhan menelantarkan Ressa. Ia mengklaim tetap hadir—meski tidak secara fisik—melalui tanggung jawab finansial yang konsisten.
Beberapa fakta yang ia ungkap:
- Biaya kuliah Ressa selalu dibayarkan saat ada tagihan
- Uang rutin dikirim melalui perantara keluarga
- Dukungan finansial tetap berjalan meski jumlah tidak selalu sama
“Uang untuk Ressa, itu tanggung jawab aku,” — tegas Denada.
Pernyataan ini menjadi kunci. Bagi sebagian orang, ini cukup. Bagi yang lain, kehadiran fisik tetap tak tergantikan.
Bukan Sekadar Skandal, Ini Tentang Pilihan Hidup
Kisah Denada dan Ressa terasa lebih dalam dari sekadar konflik hukum atau angka miliaran rupiah.
Ini tentang keputusan di usia muda. Tentang risiko. Dan tentang konsekuensi yang tidak selesai dalam hitungan tahun—tapi puluhan tahun.
Coba bayangkan. Di satu sisi, karier sedang naik. Di sisi lain, realitas datang tanpa kompromi.
Denada memilih melahirkan. Menitipkan. Dan tetap bertanggung jawab dengan caranya sendiri.
Kini, setelah semua terungkap, pertanyaan besarnya bukan lagi soal benar atau salah. Tapi—apakah waktu 24 tahun bisa dijembatani oleh satu pengakuan?
