Beritanda.com – Banjir Sumatera yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 menewaskan lebih dari 1.200 jiwa dan berdampak pada lebih dari dua juta warga di fase awal. Per 27 Februari 2026, jumlah pengungsi yang masih bertahan di tenda darurat tercatat 11.307 jiwa. Di saat bersamaan, sedikitnya 4.800 sekolah terdampak, menjadikan pemulihan hunian dan pendidikan sebagai dua indikator utama rehabilitasi.
Sebagian besar pengungsi yang tersisa berada di Provinsi Aceh sebanyak 10.394 jiwa. Di Sumatera Utara tercatat 913 jiwa, sementara Sumatera Barat sudah tidak lagi memiliki pengungsi di tenda darurat.
Pertanyaannya, sejauh mana progres rehabilitasi mampu menjawab dua persoalan utama tersebut?
Progres Relokasi dan Pembangunan Hunian
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menargetkan relokasi seluruh pengungsi sebelum Idul Fitri 2026. Untuk itu, pembangunan hunian sementara dipatok 18.253 unit.
Hingga 27 Februari 2026, terealisasi 10.498 unit atau 57 persen. Hunian sementara berfungsi sebagai fase transisi dari tenda darurat menuju hunian tetap.
Pada sisi lain, pembangunan hunian tetap ditargetkan 36.669 unit. Saat ini 1.363 unit sedang dibangun dan enam unit di Sumatera Barat telah selesai.
Selain membangun unit baru, lebih dari 73.000 rumah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat masuk tahap verifikasi dan pencairan bantuan. Skema ini memungkinkan warga memperbaiki rumah secara mandiri.
“Kita harapkan secepat mungkin bisa menyelesaikan sebelum Idul Fitri. Kalau bisa sebelum Idul Fitri semua tidak ada di tenda tapi di huntara atau menerima dana tunggu hunian yang diberikan,” ujar Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian.
Pemulihan Pendidikan dan Alokasi Anggaran

Banjir Sumatera juga memukul sektor pendidikan. Sedikitnya 4.800 sekolah terdampak. Di sejumlah wilayah, kegiatan belajar mengajar berlangsung di fasilitas darurat.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusulkan tambahan anggaran Rp2,4 triliun untuk pemulihan pascabencana di tiga provinsi tersebut. Target revitalisasi mencapai 1.204 sekolah.
Selain itu, verifikasi dan pembukaan rekening untuk 13.000 guru terus dilakukan dengan total tunjangan Rp83,3 miliar. Distribusi bantuan peralatan pendidikan senilai Rp60 miliar juga disiapkan, mencakup perangkat ICT, laboratorium, olahraga, perlengkapan kebersihan, dan materi bermain edukasi.
Data penurunan pengungsi dari jutaan menjadi 11.307 jiwa, realisasi 57 persen hunian sementara, serta target revitalisasi 1.204 sekolah menjadi parameter kuantitatif fase rehabilitasi.
Banjir Sumatera kini memasuki tahap penguatan rekonstruksi. Angka-angka progres hunian dan pendidikan menjadi tolok ukur utama keberlanjutan pemulihan di tiga provinsi terdampak.
