Beritanda.com – Arsenal kembali kehilangan poin penting dalam persaingan gelar Premier League setelah tampil kurang meyakinkan melawan Brentford. Hasil ini datang sehari setelah rival utama mereka, Manchester City, meraih kemenangan. Situasi tersebut memperkuat sorotan terhadap kesulitan Arsenal saat bermain setelah pesaing terdekatnya lebih dulu bertanding.
Sejak awal tahun 2026, Arsenal berulang kali gagal memanfaatkan momentum ketika City kehilangan atau meraih poin lebih dulu. Pola ini membuat jarak di papan atas semakin menipis.
Arsenal Tertekan Saat Bermain Setelah City
Dalam beberapa pekan terakhir, Arsenal menunjukkan performa yang berbeda ketika harus tampil setelah Manchester City. Empat kali musim ini, mereka kehilangan poin setelah mengetahui hasil pertandingan rivalnya.
Kondisi itu kembali terjadi saat City menyapu Fulham, sementara Arsenal justru tersandung melawan Brentford. Sebelumnya, mereka juga kalah dari Manchester United sehari setelah City mengalahkan Wolves.
Di awal tahun, situasi serupa muncul saat Arsenal gagal menjauh di Nottingham Forest usai City kalah dalam derbi Manchester. Hal yang sama terjadi ketika menghadapi Liverpool setelah City kehilangan poin di Brighton.
Sebaliknya, ketika bermain lebih dulu, Arsenal terlihat lebih stabil. Kemenangan atas Sunderland, Leeds, Bournemouth, hingga Aston Villa datang sebelum City turun bertanding.
Pola ini memunculkan dugaan bahwa tekanan jadwal memberi dampak psikologis. Arsenal tampak lebih gugup ketika harus merespons hasil lawan.
Namun, pelatih Mikel Arteta membantah anggapan tersebut.
“Saya rasa tidak, saya pikir kami bermain sama baiknya setelah mereka beberapa kali musim ini, dan kami memenangkan pertandingan,” kata Arteta.
Ia juga mengingatkan bahwa kemenangan atas Brighton dan Everton pada Desember lalu terjadi setelah City menang. Meski demikian, situasi kini berbeda karena musim semakin mendekati garis finis.
Kesalahan Individu dan Rapuhnya Pertahanan
Selain tekanan mental, Arsenal juga dihantui masalah teknis. Saat melawan Brentford, sejumlah kesalahan mendasar muncul sejak menit awal.
Beberapa momen krusial yang merugikan Arsenal antara lain:
- Umpan salah Gabriel yang menghasilkan tendangan sudut untuk lawan.
- Pelanggaran ceroboh yang hampir berujung kartu merah.
- Lemparan ke dalam David Raya yang berujung peluang emas.
- Peluang besar Gabriel Martinelli yang kembali terbuang.
Arteta menilai masalah utama timnya terletak pada lemahnya soliditas bertahan.
“Kita kekurangan hal-hal tertentu untuk melawan mereka, Anda harus mempertahankan situasi tersebut, bahkan lebih baik lagi mencegahnya,” ujar Arteta.
“Anda ingin tidak memberi mereka kesempatan sama sekali atau hanya berharap sesuatu yang buruk terjadi dan kami tidak berhasil mengelola hal itu dengan cukup baik sepanjang pertandingan,” tambahnya.
Kesalahan-kesalahan tersebut dianggap tidak biasa bagi Arsenal. Situasi ini mengingatkan pada blunder Martin Zubimendi yang membuat mereka kehilangan poin di Emirates pada Januari lalu.
Dalam persaingan gelar, detail kecil seperti ini menjadi sangat menentukan. Setiap kelengahan langsung berbuah konsekuensi besar.
Jadwal Padat dan Ancaman Derbi London
Masalah Arsenal belum berhenti. Dalam dua pekan ke depan, mereka kembali harus bermain setelah City dalam beberapa laga krusial.
Arsenal akan menghadapi Wolves, lalu disusul dua derbi London melawan Tottenham dan Chelsea. Kedua laga tersebut berpotensi menghadirkan tekanan serupa seperti saat menghadapi Brentford.
Tottenham disebut sedang berada dalam efek positif pergantian pelatih. Chelsea juga menunjukkan kapasitas menciptakan pertandingan ketat di Emirates.
Dalam rentang lima hari, keunggulan Arsenal yang sempat mencapai sembilan poin kini menyusut menjadi empat poin. Manchester City mulai mendekat dengan kepercayaan diri tinggi.
Pengalaman City dalam perburuan gelar menjadi pembeda penting. Sementara itu, Arsenal masih harus membuktikan mental juara mereka di momen penentuan.
Terlepas dari faktor jadwal, Arsenal kini dituntut segera menemukan solusi. Jika pola “bermain setelah City” terus menjadi masalah, peluang juara Premier League bisa semakin menjauh.
