Beritanda.com – Industri perfilman Hollywood sedang diguncang teknologi anyar dari China. Bukan sekadar gimmick, kehadiran model AI video bernama Seedance 2.0 buatan ByteDance (induk TikTok) disebut-sebut sebagai lompatan teknologi yang tak hanya menyamai, tapi bisa jadi melampaui kompetitor Barat.
Kemampuannya menciptakan video sinema dari teks dalam hitungan detik langsung memicu dua reaksi besar: kekaguman dari sineas independen dan ketakutan dari studio raksasa.
Fenomena ini kembali menempatkan China di garis depan inovasi AI, persis seperti yang dilakukan DeepSeek beberapa waktu lalu. Bedanya, kali ini sasarannya adalah jantung industri kreatif dunia.
Dengan kualitas 1080p yang stabil, pemahaman fisika yang realistis, serta konsistensi karakter antaradegan, Seedance 2.0 seolah memberi kekuatan studio film raksasa ke tangan siapa pun yang memiliki koneksi internet.
Dari Drama mikro hingga Blockbuster Independen
Potensi disruptif Seedance 2.0 paling terasa di level produsen konten kecil. David Kwok, pemilik studio animasi Tiny Island Productions, menggambarkan kemampuan AI ini sebagai memiliki sinematografer laga pribadi. “Seperti punya sinematografer atau penata kamera spesialis film laga membantu Anda,” cetusnya.
Ia mencontohkan tren drama mikro di Asia yang selama ini terkungkung biaya rendah. Biasanya, produser hanya berani membuat drama romantis atau keluarga untuk menekan biaya produksi. Namun dengan Seedance, batasan itu seolah lenyap.
AI ini memungkinkan rumah produksi kecil menggarap film fiksi ilmiah atau laga penuh efek visual yang biaya produksinya jauh di atas kemampuan finansial mereka. Teknologi ini disebut-sebut akan mendemokratisasi pembuatan film, memberi ruang bagi kreator independen untuk bersaing di kancah global.
Namun, di sisi lain, inilah yang membuat para pekerja kreatif di Hollywood ketar-ketir. Jika sebuah studio kecil bisa menghasilkan efek visual berkualitas blockbuster dengan modal minim, lalu apa peran para animator, editor, dan seniman efek khusus di masa depan? Kekhawatiran akan tergusurnya tenaga manusia oleh mesin kembali mencuat.
Viralitas Berisiko: Antara Inovasi dan Pelanggaran Hak Cipta
Jalan Seedance menuju popularitas tidak mulus. Justru kontroversilah yang membuatnya viral. Video-video buatan AI ini banyak menampilkan karakter ikonik Hollywood seperti Spider-Man dan Deadpool tanpa izin. Hasilnya? Studio raksasa seperti Disney dan Paramount langsung bereaksi keras.
Grup-grup besar Hollywood mengeluarkan somasi yang menuntut Seedance berhenti menggunakan konten mereka. Jepang bahkan bergerak lebih jauh dengan menyelidiki ByteDance atas dugaan pelanggaran hak cipta setelah video AI bergaya anime populer merebak.
Shaanan Cohney, peneliti komputasi di University of Melbourne, melihat ini sebagai strategi.
“Ada banyak celah untuk membengkokkan aturan secara strategis, mengabaikan aturan untuk sementara waktu demi mendapatkan pengaruh pemasaran,” ujarnya. ByteDance disebut lebih memprioritaskan kehebohan teknologi ketimbang urusan legalitas di awal peluncuran, sebuah risiko yang sepertinya sudah diperhitungkan.
Meski diterpa isu hukum, dari sisi teknologi, Seedance 2.0 adalah pernyataan dominasi.
“Ini menandakan model AI China setidaknya sudah menyamai batas terdepan dari apa yang tersedia saat ini. Jika ByteDance bisa memproduksi ini secara tiba-tiba, model seperti apa lagi yang masih disimpan perusahaan-perusahaan China?” cetus Cohney.
Keberhasilan ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat teknologi. Tahun lalu, DeepSeek sukses menggeser ChatGPT sebagai aplikasi gratis paling populer. Kini, Seedance melakukan hal serupa di ranah video, menunjukkan bahwa lompatan inovasi AI China bukan lagi sekadar mimpi, melainkan ancaman nyata bagi dominasi Silicon Valley.
