Beritanda.com – Pakistan dan Vietnam kini memperketat pemeriksaan kesehatan di seluruh pintu masuk negara menyusul temuan kasus baru virus Nipah di India. Langkah darurat ini diambil untuk mencegah transmisi lintas batas dari patogen mematikan yang belum memiliki vaksin tersebut.
Skrining Ketat di Seluruh Pintu Masuk
Pakistan menjadi negara terbaru di Asia yang memperketat pemeriksaan kesehatan di setiap pintu masuk wilayahnya. Kebijakan ini menyusul konfirmasi dua kasus virus Nipah yang muncul di India baru-baru ini.
Otoritas kesehatan Pakistan langsung memerintahkan peningkatan pengawasan terhadap setiap individu yang melintasi perbatasan negara. Langkah darurat ini bertujuan mendeteksi secara dini tanda-tanda infeksi virus Nipah pada pelancong.
“Sangat penting untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengawasan di perbatasan Pakistan,” ungkap Departemen Layanan Kesehatan Perbatasan Pakistan dalam pernyataan resminya. Seluruh titik masuk utama kini berada dalam pengawasan penuh petugas medis.
Bandara, pelabuhan laut, hingga perbatasan darat wajib melaksanakan pemeriksaan suhu tubuh dan penilaian klinis secara mendalam. Pelancong harus jujur memberikan riwayat perjalanan mereka selama 21 hari terakhir tanpa terkecuali.
Data transit sangat krusial untuk memetakan apakah seseorang pernah melewati area berisiko tinggi. Meski tidak ada penerbangan langsung antara Pakistan dan India, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama pemerintah.
Mobilitas antarnegara memang sedang terbatas akibat konflik yang pecah pada Mei tahun lalu. Namun, potensi transmisi lintas batas melalui pihak ketiga tetap diantisipasi secara maksimal oleh pihak berwenang.
Vietnam Turut Perketat Kontrol Bandara
Langkah defensif serupa juga diperlihatkan oleh otoritas Vietnam guna mencegah masuknya patogen berbahaya ini. Departemen Kesehatan Hanoi telah menginstruksikan pemeriksaan ekstra ketat di Bandara Internasional Noi Bai.
Fokus pengawasan tertuju pada penumpang yang baru saja tiba dari India, khususnya dari wilayah Benggala Barat. Di sana, dua petugas kesehatan dilaporkan positif terinfeksi virus Nipah pada akhir Desember lalu.
“Langkah ini memungkinkan isolasi tepat waktu dan investigasi epidemiologis,” jelas perwakilan Departemen Kesehatan Hanoi. Pemindai suhu tubuh canggih kini dioperasikan untuk memantau kondisi fisik setiap penumpang secara real-time.
Kota Ho Chi Minh juga tidak mau kecolongan dengan memperketat kontrol di seluruh perbatasan internasional. Pengetatan ini merupakan respons cepat setelah virus Nipah kembali menunjukkan aktivitasnya di kawasan Asia Selatan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan India terus berupaya meredam kekhawatiran publik dengan melacak 196 kontak erat pasien. Beruntung, sejauh ini seluruh hasil tes dilaporkan negatif dan tidak ada kontak yang menunjukkan gejala sakit.
Ancaman Mematikan Tanpa Vaksinasi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan virus Nipah sebagai salah satu patogen paling mematikan yang patut diwaspadai global. Tingkat kematiannya sangat tinggi, menyentuh angka 75 persen tergantung pada kualitas penanganan medisnya.
Infeksi virus Nipah umumnya ditularkan dari kelelawar buah ke manusia secara langsung atau melalui hewan perantara. Penderita biasanya mengalami gejala demam hebat hingga peradangan otak atau ensefalitis yang sangat fatal.
Dunia hingga kini masih berpacu dengan waktu karena belum ada vaksin yang tersedia untuk melawan virus ini. Karakteristiknya yang unik dan mematikan membuat WHO memasukkan virus Nipah dalam daftar patogen prioritas dunia.
Virus ini sebenarnya sudah dikenal sejak 25 tahun lalu saat wabah pecah di Malaysia dan Singapura. Sejarah mencatat virus Nipah telah lama bersirkulasi di antara populasi kelelawar buah selama ribuan tahun.
India secara rutin mendeteksi kasus sporadis ini, terutama di wilayah selatan seperti Kerala yang sangat rentan. Hingga akhir tahun lalu, ratusan jiwa tercatat telah melayang akibat infeksi virus Nipah di berbagai belahan dunia.
Data dari CEPI menunjukkan setidaknya ada 750 kasus terkonfirmasi secara global dengan 415 kematian tragis. Pengetatan perbatasan di Asia menjadi opsi paling rasional untuk menekan penyebaran lebih luas saat ini.
