Pengunjuk rasa berkumpul di tengah kerusuhan anti-pemerintah yang terus berkembang di jalan raya Vakilabad di Mashhad, provinsi Razavi Khorasan, IranPengunjuk rasa berkumpul di tengah kerusuhan anti-pemerintah yang terus berkembang di jalan raya Vakilabad di Mashhad, provinsi Razavi Khorasan, Iran - dok Ist

Beritanda.com – Kerusuhan besar di Iran kini berpotensi memicu konflik regional setelah parlemen negara itu memperingatkan akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan wilayah Israel jika Washington ikut campur. Ancaman ini muncul di tengah pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka opsi intervensi untuk mendukung para demonstran. Situasi tersebut membuat Israel berada dalam status siaga tinggi menghadapi kemungkinan eskalasi perang.

Peringatan Terbuka dari Parlemen Iran

Di tengah gelombang demonstrasi terbesar sejak 2022, pimpinan parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. Ia menilai setiap langkah Amerika Serikat untuk menyerang Teheran akan dibalas dengan menyasar target strategis di kawasan.

Biarlah kami perjelas,  jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf, mantan komandan Garda Revolusi, dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah.

Baca Juga :  Amerika Serang Iran? USS Lincoln Siaga & Memori Kelam

Pernyataan ini menggeser krisis domestik Iran ke level yang lebih luas, karena membuka potensi keterlibatan langsung Amerika Serikat dan Israel dalam konflik bersenjata baru di Timur Tengah.

Ancaman tersebut juga menegaskan bahwa elite keamanan Iran memandang tekanan dari luar negeri sebagai bagian dari upaya destabilisasi yang terorganisasi.

Demonstrasi Ekonomi Iran
Para pemilik toko dan pedagang berjalan melintasi jembatan selama protes terhadap kondisi ekonomi Iran dan anjloknya nilai mata uang di Teheran pada 29 Desember 2025 – dok (Kantor Berita Fars via AFP)

Israel Siaga, Memori Perang 2025 Masih Segar

Sumber-sumber keamanan Israel menyebut Tel Aviv kini berada dalam status siaga tinggi. Mereka menilai kemungkinan intervensi Amerika Serikat di Iran dapat dengan cepat memicu respons militer lintas batas.

Ketegangan ini mengingatkan pada perang 12 hari pada Juni 2025, ketika Israel dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Amerika Serikat ikut menyerang fasilitas nuklir Iran. Saat itu, Teheran membalas dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel dan sebuah pangkalan udara Amerika di Qatar.

Baca Juga :  WNI Jadi Tentara Amerika vs Rusia, Kenapa Respons Publik Berbeda?

Jejak konflik tersebut masih membekas, terutama karena posisi regional Iran saat ini dinilai melemah akibat tekanan terhadap sekutu-sekutunya, termasuk Hezbollah di Lebanon.

Dalam situasi seperti ini, setiap pernyataan politik berisiko menjadi pemicu militer yang nyata.

Trump Buka Opsi Intervensi

Di Washington, Presiden Donald Trump menyatakan tengah membahas “opsi-opsi sangat kuat” terkait Iran bersama para penasihat seniornya. Laporan media AS menyebut opsi tersebut mencakup serangan militer, operasi siber rahasia, perluasan sanksi, hingga bantuan daring bagi kelompok oposisi Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Trump juga mengatakan dirinya berkomunikasi dengan tokoh-tokoh oposisi Iran dan mengklaim para pemimpin Teheran telah menghubunginya untuk membuka kemungkinan negosiasi, meski tanpa rincian lebih lanjut.

Di media sosial, Trump menulis bahwa “Iran sedang melihat kebebasan seperti belum pernah terjadi sebelumnya” dan Amerika Serikat siap membantu.

Baca Juga :  Trump Klaim Jadi Presiden Venezuela, Unggahan Ini Dipertanyakan

Pernyataan ini memicu respons keras dari Teheran, yang menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan. Pemerintah Iran bahkan menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi mereka yang disebut sebagai martir dalam “perlawanan terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis”.

Dengan retorika saling mengancam yang semakin terbuka, kerusuhan internal Iran kini berubah menjadi krisis yang berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik yang jauh lebih luas.