Home » News » Trump Siap Temui Iran Saat Kapal Induk AS Bergerak
Donald Trump IranPresiden Amerika Donald Trump - Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

beritanda.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bersedia bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di tengah pengerahan kapal induk terbesar AS, USS Gerald R. Ford, ke Timur Tengah. Pernyataan ini menegaskan dua jalur yang berjalan bersamaan: diplomasi terbuka dan tekanan militer meningkat. Artinya, Amerika dan Iran kini berada di titik negosiasi sensitif dengan bayang-bayang eskalasi kawasan.

Diplomasi Donald Trump di Tengah Tekanan Militer Amerika

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kesiapan Trump untuk berdialog langsung.

Negara-negara perlu berinteraksi satu sama lain—saya bertugas di bawah presiden yang bersedia bertemu dengan siapa pun,” kata Rubio kepada Bloomberg.

Ia menambahkan, “Jika Ayatollah mengatakan besok bahwa dia ingin bertemu dengan Presiden Trump, presiden akan menemuinya.”

Rubio menegaskan pertemuan bukan berarti persetujuan. Menurutnya, dialog adalah cara menyelesaikan masalah global.

Di sisi lain, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa pada Selasa, dengan Oman sebagai mediator. Upaya diplomasi ini melanjutkan pembicaraan sebelumnya di Oman pada 6 Februari.

Pernyataan Trump Soal Kesepakatan dan Rezim Iran

Berbicara di Fort Bragg pada Sabtu (14/2/2026), Trump kembali memperingatkan Teheran.

Saya akan bilang mereka ingin berbicara, tetapi sejauh ini mereka banyak bicara dan tidak ada tindakan,” ujarnya.

Ia juga membuka kemungkinan perubahan rezim. “Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump, tanpa merinci lebih lanjut.

Pengerahan USS Gerald R. Ford dan Penguatan Militer AS

Sementara diplomasi berlangsung, Pentagon meningkatkan kehadiran militer. USS Gerald R. Ford bergerak dari perairan dekat Venezuela menuju Timur Tengah. Gugus tempurnya akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah siaga.

AS kini mengoperasikan sekitar 20 kapal perang dan kapal pendukung di Teluk Persia dan Laut Arab. Ford membawa hingga 75 pesawat, termasuk F-35.

Kapal tersebut berjarak hampir 15.000 kilometer dari Selat Hormuz. Dengan kecepatan maksimum, butuh sedikitnya 12 hari untuk mencapai kawasan tersebut.

Rubio menjelaskan pengerahan itu bertujuan “Untuk memastikan Iran tidak menyerang kita dan memicu sesuatu yang lebih besar di luar itu.”

Skenario Operasi Lebih Kompleks dari Sebelumnya

Dua pejabat AS menyebut militer menyiapkan kemungkinan operasi berminggu-minggu jika Trump memberi perintah. Target tidak hanya fasilitas nuklir, tetapi juga infrastruktur negara dan keamanan Iran.

Sebagai catatan, pada Juni lalu AS meluncurkan operasi “Midnight Hammer” dengan pembom siluman dari wilayah AS. Iran membalas terbatas dengan menyerang pangkalan AS di Qatar.

Iran memiliki ribuan rudal dan pesawat nirawak. Garda Revolusi memperingatkan akan menyerang pangkalan AS di kawasan jika diserang. AS memiliki pangkalan di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.

Trump mengingatkan, “Alternatif untuk solusi diplomatik akan menjadi sangat traumatis, sangat traumatis.”